The Artist: Sensasi Menonton Film Bisu

Film bisu merupakan film yang tidak ada dialog. Para pemain berakting mewakili dialog dan kadang diselipkan dialog-dialog dalam bentuk tulisan.

Menurut saya film bisu mengharuskan artisnya bisa berakting dengan baik dan mewakili dialog-dialog film melalui mimik muka dan gerak tubuh.

Artis film bisu yang saya tahu cuma Charlie Chaplin. Terus terang saya tidak pernah nonton film bisu selain film Charlie Chaplin, maka ketika saya melakukan perjalanan ke Hong Kong dan Garuda Indonesia menyediakan film The Artist, saya mencoba menonton film ini.

Poster The Artist

The Artist bercerita mengenai George Valentin, seorang aktor film bisu yang sukses. Filmnya selalu menjadi hits. Bayangkan Brad Pitt jaman dulu deh. George menjadi idola banyak orang, termasuk Peppy Miller yang jatuh cinta dengan George.

Suatu hari keduanya bertemu dan George akan-akan memberi mantera kepada Peppy rahasia untuk menjadi artis, yaitu memiliki sesuatu yang orang lain tidak punya. Peppy pelan-pelan mulai dikenal dan main di beberapa film walau awalnya hanya sebagai extra.

George dan Peppy

Seiring waktu berkembang, Peppy menjadi terkenal. Sementara itu film bisu mulai ditinggalkan dan rumah produksi tempat George bekerja mulai memproduksi film dengan dialog dan suara. George yang merupakan artis film bisu rupanya tidak diperlukan lagi. Pemilik rumah produksi menyatakan bahwa publik ingin figur artis baru, yang lebih muda dan tentunya film yang “berbicara”. Saat pembicaraan tersebut selesai, George melihat poster film baru buatan rumah produksinya. Rupanya Peppy masuk sebagai salah satu pemeran untuk film baru tersebut.

George yang mempunyai harga diri tinggi sebagai artis film bisu memutuskan untuk membuat film bisu yang dibuat dan dibintangi sendiri olehnya. Syuting berjalan sukses, namun ternyata film bisu miliknya yang berjudul “Tears of Love” akan diputar bersamaan dengan film terbaru Peppy. Konflik semakin timbul.

Awal menonton film ini saya sempat merasa bosan, bahkan sempat tertidur yang membuat saya mengulang nonton film ini. Oh iya, saya menonton film ini saat berada di pesawat Garuda Indonesia (hebat ya bok, hiburan di pesawat filmnya up-to-date gitu). Jadi jangan heran kalau saya tertidur. Saya pun mencoba beradaptasi dengan film yang tidak ada dialognya sama sekali. Namun lama kelamaan saya semakin tenggelam pada film dan merasakan emosi dari para pemain. Rupanya inilah film bisu, bagaimana pemain mampu menyampaikan emosi hanya dengan akting. Saya pun terlarut dengan film ini hingga selesai.

Pantas saja film ini mampu memenangkan Piala Oscar. Akting pemainnya bagus, lagu-lagu dalam film mampu mewakili tiap adegan. Setting film yang mengambil tahun 1920-1930 seakan-akan membuat kita kembali ke masa lalu. Menurut saya film ini bagus dan mendapatkan rating 8.5/10. Suatu hiburan yang berbeda dari biasanya. Akting pemainnya jempolan walaupun sepanjang film mata hanya dimanjakan dengan warna hitam-abu-abu-putih.

Gambar dari film.com dan imdb.com
About these ads

Tag: , , ,

22 Tanggapan to “The Artist: Sensasi Menonton Film Bisu”

  1. cK Says:

    Udah lama gak review film. :roll:

  2. budiono Says:

    wah kayaknya seru buat ditonton, btw ini bener2 bisu dalam artian tanpa ilustrasi musik juga, atau hanya tanpa dialog?

  3. Ca Ya Says:

    Mr.Bean aja msih trdengar ngomong dkit wlwpn sbenernya jg nyaris tanpa dialog eheheheh…
    para pemainnya musti kyak maen teater,mimik wajah is number 1 heu :3

  4. fenty6285 Says:

    oh ini film bisu toh :D

  5. fairyteeth Says:

    ndak bosenin ya chik? dari waktu itu mau nyoba nonton tapi selalu takut.. takut ketiduran ditengah2 film nya main :|

    • cK Says:

      Sebenarnya ketiduran bukan karena bosan, tapi karena iringan lagu yang bikin ngantuk. Terus akhirnya diniatin nonton dan ternyata filmnya bagus. :D

  6. Goiq Says:

    hmmm.. yang ada dialognya aja kadang suka bikin tidur, gimana yang ga ada dialognya yah ??

  7. Alex© Says:

    Film bisu itu menarik loh. Kekuatan akting yang cuma bertumpu pada bahasa tubuh itu susah, membuat seni pantomim menjadi bakat langka tanpa keharusan menghapal dialog dalam naskah. Seperti Charlie Chaplin: agaknya susah menemukan sosok pelawak bisu setangguh dia kini, dimana suara bisa di-dubbing.

    Baca review ini jadi tertarik untuk unduh bajakan cari nanti. Hehe.

    • cK Says:

      Betul Lex. Awalnya sempet tidur karena alunan lagu, akhirnya coba ulang dari awal lagi. Lagunya itu lho, bikin pengen bobok…

      Anw entah kenapa artis film bisu yang paling diingat cuma Charlie Chaplin ya? :-?

      • Alex© Says:

        Hehe. Ciri khas film bisu, biasa lagu agak-agak klasik begitu.

        Charlie Chaplin paling dikenal mungkin karena dia memang paling ikonik. Atau mungkin karena memang dia banyak memainkan film, seperti Benjamin S yang kadung dikenal sebagai aktor Betawi. Selain itu dia memang paling kreatif dan paling dikenal ketika dunia sedang depresi paska perang dunia pertama dan datangnya perang dunia ke 2. Padahal ada banyak artis juga terkenal dengan film-film bisu yang bagus seperti Patsy Ruth Miller di film The Hunchback of Notre Dame yang sampai dibikin beberapa kali, atau film Ben-Hur yang menjadi film bisu terlaris kedua di bawah film The Artist ini. (Film bagus, boleh ditonton. Kayaknya ada juga diputar-putar di TV kabel).

      • cK Says:

        Udah pernah nonton Ben Hur sih, sayang yang main kurang ganteng. Jadi agak males gitu. *digetok*

  8. Alex© Says:

    Yang versi biru bisu? Memang nggak ganteng sih. Hehe. Yang cewek juga wajahnya itu kelewat tua. Kelewat klasik. Ya kali saja karena ceritanya zaman, jadi dicari pemeran yang ganteng pada zamannya saja :lol:

  9. Nyasar di Hong Kong « cK stuff Says:

    [...] tidak terasa dengan hiburan yang tersedia sepanjang perjalanan. Bahkan saya berhasil menulis review film yang saya tonton di [...]

  10. Budi Cahyono Says:

    Pemainnya bener-bener terlihat seperti orang yang hidup 100 tahun yang lalu.

  11. hidupiniseperti Says:

    Entah kenapa saya hanya tahan 15 menit nonton film bisu ini :P

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: