Mengunjungi Kawasan Lampu Merah

Saat liburan ke Belanda, saya sempat mengunjungi salah satu tempat terkenal di Belanda, yaitu kawasan lampu merah yang lebih dikenal dengan sebutan Red Light District (RLD). :mrgreen:

Semua berawal ketika salah seorang peserta conference menanyakan soal kawasan ini, maka setelah makan siang, sebagian rombongan yang penasaran dibawa tour guide ke daerah ini.

Buat yang belum tahu, Red Light District adalah kawasan yang memiliki banyak lampu merah (eh bener lho!). Di sini sering macet karena orang-orang berhenti untuk melihat cewek-cewek menari dan memanggil dengan hanya memakai baju seperti bikini. :mrgreen:

Yup, ini adalah “jajanan malam” para pria. Karena penasaran, ya saya ikutan aja ketika rombongan mampir ke sini. Di kiri kanan dibuka toko alat seks yang ketika iseng masuk dan memeriksa harga barang yang dijual, ternyata harga barangnya gak semahal di Singapore. :lol:

Ada borgol berlian gitu harganya sekitar €49 (silakan dikalikan Rp 12.300). Untuk alat “nganuh”, harganya dimulai dari €39. Sayangnya saya gak boleh motret. :lol:

Kenapa dinamakan Red Light District? Karena setiap malam para wanita menjajakan diri dan menari-nari di sebuah ruangan yang diberikan lampu warna merah. Jadi kalau melihat gedung dengan jendela besar disertai lampu-lampu warna merah, tunggulah agak malam, maka nanti akan ada perempuan menari-nari memanggil calon pembeli. Btw mereka pakai beha warna neon gitu jadi menyala-nyala walaupun gelap. Kalau mau beli, dijual di toko dekat situ, harganya kalau gak salah sekitar €39 gitu. *lupa*

Disensor yeeee :P

Di sini ada live porno show, yaitu pertunjukan porno (silakan bayangkan sendiri) yang tampil secara langsung, bukan siaran tunda, apalagi pakai layar macam bioskop. Sementara itu Mama yang kebetulan kebawa dengan rombongan (dan terheran-heran melihat RLD ini) mengingatkan para bapak-bapak untuk tidak “jajan”.

“Bapak-bapak, hayooo abis ini sholat taubat,” yang disambut dengan ketawa sana sini. Mendengar kami berbicara bahasa Indonesia, salah satu penjaga live show yang (kayaknya) orang lokal mengajak kami masuk dengan menggunakan bahasa Indonesia.

“Halo, Indonesia? Ayo mampir, murah cuma €25. Jangan khawatir, halal.”

Saya langsung ngakak mendengar itu. Tampaknya orang Indonesia banyak yang jajan di sini sampai mereka bisa berbahasa Indonesia. :lol:

Oh iya, di sini katanya gak boleh motret (untuk privacy si cewek-cewek penjual kenikmatan). Tapi kayaknya banyak yang foto diam-diam :roll:. Ini nih salah satu gang di RLD. Coba lihat itu gerombolan cowok-cowok lagi ngelihat ke arah sebuah ruangan berlampu merah. Kalau penasaran apa di ruangan tersebut, bayangkan saja seorang perempuan menari-nari dan merayu untuk “dibeli”.

Lagi pada ngelihatin apa siiih? :lol:

Saya juga sempat melihat salah satu orang asing sedang menawar si cewek. Namun si cewek menolak dan bilang dirinya gak bisa lebih murah dari €50. Si cowok terlihat pergi, namun beberapa detik kemudian kembali ke tempat yang sama dan tampaknya terjadi kesepakatan harga. :roll:

Setelah sekitar setengah jam berkeliling RLD, akhirnya rombongan kembali ke hotel dan beristirahat. Nambah satu lagi pengalaman, pergi ke Red Light District. Memang kalau travelling itu menambah pengalaman dan membuka wawasan baru. :lol:

Hayoooo siapa yang mau main ke sini? :mrgreen:

.

Gambar lampu merah diambil dari sini.
About these ads

44 thoughts on “Mengunjungi Kawasan Lampu Merah

  1. DosGil berkata:

    Lah gak mampir ke toko kondom lucu-2? Gak memfoto sexshop yg di atas pintunya tertulis kutipan surat Paulus ke Jemaat di Roma “Si Deus Pro Nobis Quis Contra Nos”? Gak nyobain resto Indo-chinese-suriname di ujung jalan zeedijk?

    Hmm …. sepertinya masih kudu balik lagi ke situ deh Chik … :p

  2. Miftahgeek berkata:

    Baru tahu ada ‘live porno show’ gitu. Di jepang yang kayaknya parah soal beginian aja, belom pernah denger beginian sayah O_o

    Btw ngapain itu mampir2 ke toko peralatan begituan segala XD

  3. Benji berkata:

    Membaca postingan ini jadi ingat kawan yang lari ke Belanda dulu kala. Ini kawasan yang jadi wisata seks dengan latar perdagangan perempuan dan perbudakan seks era modern. Sejumlah dari mereka, katanya, adalah gadis-gadis yang diculik, dibeli, atau dibesarkan setelah dipiara yang diambil dari bekas negara-negara balkan yang perang dulu. Dibesarkan untuk jadi objek wisata, terutama wisata birahi. Dan ironisnya adalah, kata kawanku, ada orang dari Senayan yang mengaku wakil rakyat, dan mereka yang mengaku dari lembaga pro kemanusiaan di Indonesia, datang ke sana dan tertawa-tawa memamerkan foto-foto wanita itu saat pulang kampung ke Indonesia. Kebanggaan karena berhasil mencicipi tubuh molek dari perbudakan seks modern.

  4. yusrizalihya berkata:

    waw, ada live shownya juga disana? :D
    wah, sayang ga boleh motret ya mbak. Kawasan ini udah terkenal banget nih, tapi saya blm pernah lihat langsung sih. Kapan ya bisa kesana? Haha
    Asli ngakak pas baca bagian “Halo, Indonesia? Ayo mampir, murah cuma €25. Jangan khawatir, halal.” :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s