Film Bioskop Yang Ditonton Selama January 2018

Bulan baru di tahun baru. Maka tentunya ada semangat baru yang membuat saya bisa menonton lebih banyak di bulan ini. Biasanya target nonton saya 5 film per bulan, maka di bulan ini saya berhasil melebihi target saya yaitu 8 film. Luar biasa bukan?!

Beberapa film yang saya tonton merupakan film yang memang saya tunggu-tunggu, seperti The Greatest Showman, Maze Runner: The Death Cure, dan Insidious: The Last Key. Lalu saya juga penasaran dengan film Indonesia berjudul Dilan 1990 yang kehadirannya sangat diantisipasi oleh orang banyak. Begitu banyak film yang saya tonton bulan ini, apa aja sih?

Pitch Perfect 3

Ekspektasi saya rendah saat menonton film ini, karena beberapa teman-teman sudah memberikan review mereka dan memberitahu saya bahwa film Pitch Perfect yang ketiga ini gak terlalu bagus. Baiklah.

Filmnya dimulai dengan The Bellas yang sudah lulus dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kangen untuk kembali tampil, mereka akhirnya mencoba ikutan kompetisi nyanyi dari kantor army bapaknya Aubrey (Anna Camp) di mana pemenangnya akan berkesempatan untuk duet bareng DJ Khaled.

Persaingan semakin berat ketika lawan-lawan mereka bukanlah accapella, melainkan penyanyi-penyanyi yang memainkan alat musik. Berhasilkah The Bellas memenangkan kompetisi ini? Lupakan jalan ceritanya yang biasa aja, tapi nikmati kekonyolan dan humor-humor yang ada. Skor untuk film ini saya kasih 7/10 karena sebenarnya filmnya biasa aja, tapi cukup lucu dan menghibur untuk saya.

Ayat-Ayat Cinta 2

Berhubung saya nonton Ayat-Ayat Cinta yang pertama, tentunya saya penasaran dengan film yang kedua ini. Apalagi setelah melihat review sana-sini terutama review dari Teppy di sini, saya jadi semakin tergerak untuk menonton filmnya.

Bercerita tentang Fahri (Fedi Nuril) yang menjomblo dikarenakan sang istri Aisyah (Dewi Sandra) pergi ke Iran dan di sana ia menghilang tiada kabar. Entah telah berapa purnama Fahri menunggu, namun Aisyah tak kunjung muncul dan di sinilah godaan-godaan bermunculan. Sebagai cowok (lagi single) yang mapan, baik hati, soleha, idaman kaum hawa, dan masih banyak faktor yang membuat Fahri sebagai manusia nyaris sempurna.

Fahri yang merupakan dosen ditaksir banyak muridnya. Belum lagi saudara Aisyah yang bernama Hulya (Tatjana Saphira) juga mencintai Fahri secara diam-diam. Lalu ada seorang perempuan homeless yang ditampung Fahri di rumahnya yang ternyata adalah orang yang sangat dekat dengan Fahri. Siapakah dia?

Aduh nonton sendiri deh. Oh iya, ada yang bilang akting Fedi Nuril kaku banget di film ini. Namun menurut saya bukan aktingnya yang kaku, namun tokoh Fahri-lah yang kaku dan Fedi Nuril justru berhasil mengeluarkan karakter tersebut. Just my two cents.

Adegan yang jadi viral

Anyway filmnya biasa aja menurut saya. Tapi memang pemandangan Eropa tidak pernah membosankan. Belum lagi cerita yang agak menjual kehaluan tentunya akan disukai para perempuan. Saya memberikan skor 7/10 saja.

The Greatest Showman

Hugh Jackman sudah dikenal sebagai aktor yang pandai bernyanyi. Rasanya kayak toko sagala aya deh, ganteng iya, pinter iya, jago akting iya, jago nyanyi iya, suami idola ya, kayaknya yang kurang cuma satu, dese mulai tua. Tapi masih tetap ganteng dan berotot. Duh.

Makanya pas ada film The Greatest Showman, saya gak pakai mikir untuk langsung ke bioskop ketika ada waktu senggang. Apalagi di film ini juga ada Zac Efron kesayangan. Bercerita tentang P. Barnum, seorang pengusaha miskin yang menikahi perempuan tajir. Ia bercita-cita memberikan istri dan anaknya kehidupan yang lebih baik sampai akhirnya dia mencoba membuka tempat pertunjukkan yang berisi orang-orang unik. Persis kayak novel Cirque Du Freak.

Mereka tampil sambil bernyanyi, akrobat, dan lain-lain. Keunikan ini berhasil menghasilkan uang dan membuat Barnum berjaya sampai mampu membeli rumah yang sangat besar. Kesuksesan tersebut membuat Barnum ingin bisa menghasilkan lebih sampai akhirnya merekrut penyanyi Eropa bernama Jenny Lind.

Seperti kisah-kisah sukses lainnya, pasti ada aja masalah yang dihadapi. Namun sepanjang film saya begitu menikmatinya. Alur ceritanya menarik, tidak membosankan bagi saya. Nyanyian dan tarian yang disajikan juga bikin saya ingin ikut menari. The Greatest Show benar-benar suatu suguhan yang bernutrisi untuk mata, telinga, dan hati. Film ini saya beri skor 8.5/10 karena filmnya benar-benar bagus! Banyak teman saya yang menonton film ini berkali-kali.

Along With The Gods: The Two Worlds

Saya nonton ini karena beberapa rekomendasi dari teman-teman yang sudah menonton film ini. Filmnya bercerita tentang Kim Ja Hong (Cha Tae Hyun), seorang pemadam kebakaran yang mengalami kecelakaan saat menolong orang, dan setelahnya dihadapkan pada sidang akhirat.

Setelah mati tersebut, ia bertemu dengan 2 malaikat Hewonmak (Ju Ji Hoon) dan Deok Choon (Kim Hyang Gi) yang akan mengantar dia ke gerbang akhirat. Ja Hong yang semasa hidupnya banyak membantu orang, menjadi Suri Teladan di alam akhirat. Bisa dibilang ini adalah gelar yang sulit didapat (mengingat kebanyakan orang bikin dosa ketimbang menolong orang lain).

Karena ia menjadi Suri Teladan, maka Ja Hong mendapat kesempatan untuk bereinkarnasi ke dunia. Namun ia harus melewati pengadilan di setiap neraka dengan jumlah total 7 neraka. Ja Hong pun memutuskan akan melewati semua ketujuh pengadilan tersebut karena keinginan kuatnya untuk bertemu lagi dengan ibunya yang bisu.

Film ini kurang lebih memperlihatkan akhirat menurut kepercayaan Budha. Saya nonton film ini bareng Ochoy dan film ini sukses membuat teman nonton saya menangis tersedu-sedu. Filmnya bagus dan agak berat menurut saya. Jadi bikin mikir atas hal-hal yang saya lakukan selama ini. Skor film ini saya berikan 8.5/10.

Susah Sinyal

Susah Sinyal adalah film yang disutradarai oleh Ernest Prakasa. Bercerita tentang Ellen (Adinia Wirasti), seorang pengacara sukses dan single parent yang jarang menghabiskan waktu dengan anaknya Kiara (Aurora Ribero). Kiara lebih dekat dengan Oma dan ketika Oma meninggal, Kiara sedih luar biasa dan tetap tidak bisa dekat dengan mama-nya.

Psikolog akhirnya menyarankan Ellen untuk liburan bersama Kiara agar mendapatkan quality time dan akhirnya mereka pergi ke Sumba, daerah dengan tempat yang cukup susah sinyal. Di sini drama dimulai.

Sebagai orang yang udah pernah ke Sumba, memang tempat tersebut cukup susah sinyal. Justru karena hal tersebut jadi lebih bisa menikmati liburan karena jadi gak pegang-pegang gadget. Di film ini, kesulitan sinyal tersebut yang akhirnya bisa membuat mereka lebih kompak.

Filmnya sendiri cukup lucu. Dengan pemandangan Sumba yang sangat indah, film ini memberikan kesegaran pada film Indonesia. Sayangnya terlalu banyak joke China yang menurut saya gak terlalu diperlukan. Skor untuk film ini saya berikan 7.5/10. Lucu tapi gak yang lucu banget.

Insidious: The Last Key

Setelah mengeluarkan 3 film, ternyata film Insidious masih belum selesai. Insidious The Last Key ini menguak masa lalu Elise (Lin Shaye) di mana ternyata ia memiliki masa lalu yang sangat kelam. Berawal dari Elise ditelpon oleh seseorang bernama Ted Garza yang curhat karena rumah yang ia tinggali tampaknya berhantu. Siapa yang menyangka itu adalah rumah lama Elise.

Elise mulai napak tilas saat tiba di sana, sampai ia tiba-tiba mendapatkan ingatan masa lalu bagaimana kejadian-kejadian kelam dihadapi olehnya. Hal itu pula yang membuatnya terpisah dengan adiknya Christian. Elise pun kembali menghadapi wujud mistis yang berasal dari masa kecilnya. Sebenarnya apa yang dihadapi Elise saat kecil? Tonton sendiri aja biar lebih joss!

Entah kenapa menurut saya film Insidious kali ini kurang greget. Gak gitu seram tapi memang ada beberapa efek mengejutkan. Menurut saya masih lebih greget Insidious 1 dan Insidious 2. Film ini merupakan Insidious ke-4 dan tampaknya masih akan ada lagi Insidious ke-5. Luar biasa ya!. Oh iya, untuk skor saya kasih 7/10 karena menurut saya filmnya biasa aja.

Maze Runner: The Death Cure

Akhirnya lanjutan The Maze Runner dirilis juga. Saya sudah menunggu lama film ini. Maze Runner: The Death Cure yang semula harusnya dirilis pada tahun 2017, bergeser jadi tahun 2018 dikarenakan pemeran utamanya Dylan O’Brien mengalami kecelakan sehingga shooting menjadi tertunda.

Melanjutkan kisah Thomas yang ingin menolong Minho yang sedang ditahan oleh WCKD. Mereka mencoba menyelamatkan Minho dengan mengambil gerbong kereta yang diperkirakan ada Minho, namun ternyata mereka salah dan Minho masih tetap tertahan oleh WCKD.

Rombongan lain merasa sudah cukup menyelamatkan banyak anak sehingga tidak ingin mengambil resiko lain dengan menyelamatkan Minho. Namun Thomas masih terus berusaha dan akhirnya memutuskan pergi dari rombongan untuk mencari Minho bersama Newt dan Fry Pan. Tak hanya bertiga, muncul juga Brenda dan Jorge yang hadir tepat ketika Thomas, Newt dan Frypan mendapatkan kesulitan.

Akhirnya tujuan akhir mereka adalah “The Last City” yaitu kota di mana WCKD berada. Sampai di The Last City, Thomas bertemu dengan seseorang yang tidak disangka-sangka masih hidup. Siapakah dia? Tonton aja filmnya. Durasi The Maze Runner: The Death Cure ini cukup lama yaitu 142 menit. Mungkin karena film terakhir jadi sekalian habis-habisan aja. Film ini saya beri skor 8/10 karena subjektif hahahahaha. Kalau pemainnya bukan Dylan O’Brien mungkin saya kasih 7.5/10 aja.

Dilan 1990

Film yang ditulis oleh Pidi Baiq ini sukses jadi tontonan masyarakat seluruh lapisan. Review demi review bagus terus berdatangan sehingga hal ini membuat saya ikut penasaran ingin menonton film ini.

Bermula dari Milea (Vanesha Prescilla), anak baru yang pindah sekolah di Bandung. Di sana, tiba-tiba ia bertemu dengan Dilan (Iqbaal Ramadhan), anak geng motor banyak gaya yang disegani di sekolah. Ketika bertemu Milea, Dilan sudah menunjukkan rasa ketertarikannya terhadapnya, namun Milea yang memiliki pacar cuek bebek aja dengan kehadiran Dilan.

Hari demi hari terlewati dan Dilan makin getol ngedeketin Milea, dengan gayanya yang khas namun unpredictable. Pemikiran Dilan yang out of the box itu justru bikin Milea terpincut. Tapi kan Milea udah punya pacar ya, terus gimana? Nonton aja sendiri~

Film Dillan 1990 sukses bikin saya ketawa-ketiwi dan cengangas cengenges sepanjang film. Hebatnya film ini juga mampu bertengger di bioskop hingga dua bulan lho! Saya kasih skor film ini 8/10. Iqbaal Ramadhan hebat banget memainkan karakter Dilan, padahal sebelumnya orang-orang protes saaat namanya keluar sebagai pemeran Dilan. Good job Iqbaal. Ditunggu film-film selanjutnya ya. 😀

Demikian review-review film yang saya tonton Januari 2018 kemarin. Telat banget sih, tapi better late than never kan yaaa?

Film yang saya tonton di bulan Januari bisa dibilang cukup banyak. Yang pasti siap-siap kecewa dengan review film di bulan Februari, karena film yang saya tonton gak banyak yaaaa~

Iklan

12 respons untuk ‘Film Bioskop Yang Ditonton Selama January 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s