Cerita Tentang Airbnb di Hiroshima

Pertama kali traveling ke Jepang, saya dan Clara Devi memilih menggunakan Airbnb untuk menginap ketimbang hotel, hostel, atau ryokan. Setelah menginap di tempat Yuka-san yang rumahnya memiliki kamar yang Jepang banget, di Hiroshima kami memilih penginapan Airbnb berupa apartemen yang memiliki host pasangan suami istri Toyo dan Taso.

Perjalanan dari Ajina menuju Hiroshima memakan waktu sekitar setengah jam saja menggunakan kereta. Dari stasiun, kami naik taksi mencari apartemen milik Toyo dan Taso karena sudah malam dan ternyata tidak sulit untuk ditemukan. Sesampai di sana, kami disambut oleh Toyo dan Taso serta teman-temannya yang sedang berkumpul dan makan-makan.

Di sini saya berkenalan dengan Uta-chan, gadis cilik berumur 3 tahun yang lucu sekali. Ia menyanyikan lagu Happy Birthday untuk saya walaupun ulang tahun saya sudah lewat. Senang sekali melihat sambutan dari mereka sungguh ramah dan menyenangkan.

Toyo, Lucy, dan Uta-chan

Di sini ada anjing beagle bernama Lucy. Toyo sangat menyayangi Lucy seperti anaknya sendiri. Lucy memang sudah cukup tua. Walau kondisi Lucy tidak begitu sehat dan matanya sudah katarak, namun Lucy masih aktif bergerak bahkan suka mengambil makanan di meja.

Kamar airbnb, di bawah kaki ada space untuk menaruh koper

Kamar yang kami tinggali memang tidak begitu besar karena ini adalah apartemen yang memiliki keterbatasan ruang, namun kami merasa nyaman di sini. Toyo dan Taso sungguh ramah dan saya mudah akrab dengan Toyo yang sangat ceria. Saya dan Epoy memanggil Toyo dengan sebutan Toyo-sama. Panggilan ini berarti sangat menghormati orang tersebut.

Toyo adalah koki yang hebat. Sarapan yang disajikan sungguh enak dan penuh gizi. Saya pikir hanya di film-film saja perihal cewek Jepang biasanya jago masak, ternyata dalam kehidupan sehari-hari juga terjadi.

Ada muffin isi telur, kentang, jamur, dan yoghurt

Roti, telur, sama plain yoghurt dan strawberry

Makanan yang dimasak oleh Toyo terbuat dari bahan-bahan organik karena Toyo memiliki kebiasaan hidup sehat. Selain itu presentasi makanannya sangat apik sehingga enak dilihat. Duh bahagia banget ya jadi Taso, tiap hari dimasakin masakan enak seperti ini. ❤

Saya juga sempat diberikan kejutan kecil karena pada saat itu saya baru saja berulang tahun. Epoy, Toyo, dan Taso membelikan saya strawberry cheese cake yang sungguh enak. Ya ampun, apa sih yang gak enak di Jepang? Paling natto sih…

Kue strawberry~

Pertama kali ulang tahun di Jepang

Toyo juga memperlihatkan ke saya bagaimana dia bermain shamisen. Alat musik Jepang ini ternyata harganya sangat mahal lho. Shamisen seperti ini harganya 80 juta. Ya ampun udah bisa DP rumah tuh! Saya ingin mencoba memainkannya tapi gak berani karena ini alat mahal hahahaha~

Shamisen yang mahal ituh~

Tak hanya pintar bermain musik, Toyo ini pintar menggambar. Toyo juga suka traveling dan saat traveling biasanya ia menuliskan pengalamannya di sebuah diary yang diisi dengan tulisan dan gambar. Inilah sebagian gambar-gambar Toyo mengenai ceritanya saat traveling.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Isi diary Toyo-sama

Melihat diary ini jadi memicu saya untuk menulis dan menggambarkan pengalaman traveling saya. Tapi kok malas ya, jadinya saya nulis blog aja deh, gak pake ngegambar hahahaha. Sebelum saya pergi melanjutkan perjalanan, saya meminta Toyo untuk menggambarkan Sailor Moon kesukaan saya. Dan inilah hasil gambarnya Toyo~

Bagus yaaaa~

Letak apartement Toyo dan Taso rupanya tidak jauh dari Hiroshima Peace Memorial Park. Kami dapat berjalan kaki dari apartemen menuju ke sana. Karena saat itu sedang hujan dan Toyo meminjamkan boots pink-nya ke saya. Saya naksir banget dengan boots ini, sayangnya Toyo tidak mau menjualnya ke saya. Bhahak.

Sebelum mampir ke Hiroshima Peace Memorial Park, saya dan Epoy memutuskan untuk isi bensin alias makan. Karena di sini cukup sulit menemukan makanan halal, akhirnya kami memutuskan ke Cafe Ponte, restaurant Italia yang memiliki menu seafood.

Tempatnya enak bangeeet, tidak begitu ramai (mungkin karena harga makanan di sini cukup mahal), penataan interiornya bagus, dan yang terpenting, makanannya ENAK BANGET! Kami menikmati aneka kerang yang disajikan. Jarang-jarang bisa makan fancy di luar negeri karena biasanya saya ngirit hahahaha~

Itadakmasuuuu~

Fried Oysters

Boiled oysters

Suasana indoor Cafe Ponte

Selesai makan, kami pun menuju Hiroshima Peace Memorial Park. Waktu mampir ke Atomic Bomb Dome di seputaran taman, ternyata lagi direnovasi dan tidak boleh dilewati sehingga cuma bisa dilihat dari luar. Penampilannya saat saya berkunjung ke sini adalah seperti ini , tapi sekarang kayaknya sudah selesai renovasinya.

Atomic Bomb Dome

Di Hiroshima Peace Memorial Park

Sempat mampir ke mall terdekat juga untuk berbelanja. Di sini ada Daiso yang harganya jauh lebih murah daripada di Jakarta. Rara-rata barang di sini harganya ¥100 (Sekitar IDR 12.000). Saya pun kalap dan langsung belanja banyak. Lumayan bisa buat oleh-oleh juga.

Hasil belanja di mall

Malam terakhir di sini, kami makan di restaurant sushi yang direkomendasikan oleh Toyo. Sayangnya Taso tidak bisa ikutan karena masih harus bekerja sampai malam. Saya lupa ini restaurant sushi yang di mana, tapi kalau gak salah perlu naik bus untuk menuju ke sini.

Semuanya sushi mentah hahahaha~

Itu yang di belakang ikutan foto :))

Kenyang sekali makan segitu banyak sushi. Malamnya saya tidur dengan bahagia karena perut kenyang dan hati senang. Malam terakhir di tempat Toyo dan Taso saya lewatkan dengan kegiatan yang menyenangkan.

Ketika akan melanjutkan perjalanan ke kota lainnya, saya merasakan salju untuk pertama kalinya. Menurut Toyo, ini adalah salju terakhir di bulan Maret karena sebentar lagi akan memasuki musim semi yang berarti akan ada sakura!

Walau cuma tiga hari menginap di sini, saya sudah menganggap Toyo seperti kakak sendiri. Senang rasanya bisa kenal dengan Toyo dan juga Taso. Tentunya hal seperti ini tidak akan bisa saya temui kalau menginap di hotel. Karena itulah saya senang sekali menggunakan Airbnb, apalagi kalau traveling ke Jepang.

Sayangnya Toyo dan Taso tampaknya sudah tidak membuka Airbnb lagi karena listing rumahnya di Airbnb sudah tidak ada. Hal itu dikarenakan Toyo sekarang sudah kembali bekerja di kantor sehingga akan sulit untuk membuka layanan Airbnb. Selang beberapa bulan kami pulang ke tanah air, Lucy ternyata sudah berpulang. Hiks.

Postingan ini juga terlambat dua tahun karena saya kurang disiplin menulis saat selesai traveling. Karena itu mulai sekarang saya akan mulai rutin menuliskan pengalaman traveling saya ke depannya. Semoga kalian tidak bosan membacanya. 😀

Iklan

27 thoughts on “Cerita Tentang Airbnb di Hiroshima

  1. Rina berkata:

    Seru ya pengalaman airbnb nya 🙂 jadi pengen ngetrip lagi n pake airbnb, selama ini selalu ngehostel. Airbnb baru nyoba sekali aja dan emang menyenangkan sih, pas dapet hostnya baik banget.

    Btw, natto ga enak ya? Pengen nyicip tapi udah keburu geli liatnya :))

    • cK berkata:

      Waktu itu pakai Airbnb di negara mana? 😀

      Soal natto, aku nyium baunya aja gak suka ahahaha jadi gak makan deh. xD

      • Rina berkata:

        Di verona, itali. Hostnya ga bisa bahasa inggris sama sekali. Komunikasi 100% pake gugel translate 😀
        Emangnya bau natto kayak gimana? sampe bikin ga mau makan

        • cK berkata:

          Baunya kayak makanan basi xD

          Btw bisa juga ya ternyata komunikasi walau sama sekali gak bisa bahasa Inggris. Keren! :)))

  2. Desfortin berkata:

    Ooo…postingan dari pnglman traveling lama di masa dulu to, kirain baru, hee… tpi gak apa2, saya gak kok bosan bacanya, malah kirain tadi ini kisah traveling barusan.

    Oya, Airbnb itu apartemen ternyata, gimna spellnya ya (suku kata terakhir)?

    • cK berkata:

      Iyaaa ini sebenernya pengalaman udah lama yang pengen dibagi. Semoga ceritanya ndak basi. 😀

      Airbnb sebenernya gak cuma apartemen sih, bisa juga rumah, kamar doang, atau hostel. Tergantung apa yang disewakan. Eh iya, nyebutnya sih kayak biasa, air b-n-b. 😄

      • oreocheesecake berkata:

        Anu, numpang informasi.

        Airbnb dibacanya kan Er-bi-en-bi, tuh… soalnya ketika pertama kali usaha ini didirikan, sebenarnya pendiri Airbnb cuma bermodal menyewakan “airbed” dan “breakfast” untuk turis on budget yang butuh tempat tidur (hence the name).

  3. Simbok berkata:

    Duh. Jepang…

    Aku belum pernah pake AirBnB karena… ga punya cc. Hhahahhaha

    Etapi pake kartu Jenius bisa yak? #hayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s