I Left My Heart in Budapest

Perjalanan ke Eropa tahun 2014, saya hanya mengunjungi 3 negara aja, tidak seperti trip ke Eropa sebelumnya pada tahun 2012 di mana saya mengunjungi 5 negara Eropa sekaligus. Perjalanan ke Eropa kali ini masih sama seperti misi sebelumnya, yaitu membantu kerjaan Mama.

Saya beruntung karena Mama memiliki pekerjaan yang mengharuskannya ikut seminar ke luar negeri. Berdasarkan alasan itulah saya bisa ikut nebeng perjalanan ini karena terlalu sayang itu kamar hotel-nya Mama cuma diisi sendirian.

Tujuan pertama perjalanan ke Eropa kali ini adalah ke Frankfurt. Di Frankfurt saya mengunjungi beberapa tempat touristy yang sudah saya tulis di blog. Selama di Frankfurt, yang saya rasakan adalah banyak camilan enak, tempat yang tenang, dan penduduk yang cukup bersahabat. Dari Frankfurt dilanjutkan ke Budapest, Hungary. Kalau dalam bahasa serapan Indonesia adalah Hongaria. Namun saya lebih suka menuliskannya dengan Hungary.

Dari Frankfurt menuju Hungary saya menggunakan pesawat Wizz Air. Wizz Air adalah low-cost airlines milik Budapest. Yah, mirip-mirip L**n Air juga dari segi ketepatan waktu. 😛

Mata uang di Hungary adalah Forint, namun terkadang di toko-toko menerima Euro juga. Kurs 1 Forint sama dengan Rp 50. Di Hungary, saya online menggunakan nomer lokal yaitu operator T-Mobile. Dengan membayar 4050 Ft (sekitar 200 ribu), saya mendapatkan paket data 1GB dengan kecepatan rata-rata 8Mbps dan bisa menelpon ke nomer lokal sekitar 15 menit. Lumayan yaaaa! Jatah telpon akhirnya saya pakai untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke kakak saya di Indonesia.

Mata uang Forint

Kota yang saya datangi adalah Budapest, ibu kota dari Hungary. Budapest terdiri dari kota Buda dan Pest yang terpisah oleh Sungai Danube. Banyak sekali tempat-tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi di Budapest.

Selama di Budapest, saya menginap di Courtyard Marriont City Center. Hotel ini terletak di tengah kota dan sangat mudah untuk menjangkau tempat-tempat yang ingin dituju. Misalnya saja mau ke West End mall, naik trem sekitar 10 menit sudah sampai. Sungguh menyenangkan! Seperti ini pemandangan yang saya lihat dari jendela hotel. Menyenangkan yaaa!

Pemandangan setiap hari di Budapest

Di Hungary, penduduknya menggunakan bahasa lokal yaitu Magyar, namun banyak yang bisa berbahasa Inggris di sini sehingga saya tidak ada kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka. Saya bisa berbelanja, jajan makanan, dan nanya arah tanpa kesulitan di sini.

Beberapa hal yang saya pelajari di sini adalah ketika berbelanja, kita harus mengeluarkan belanjaannya sendiri dari keranjang, dan setelah itu menaruh kembali keranjang belanjaannya. Kalau di Indonesia, biasanya isi belanjaan dikeluarin ama petugas kasirnya. Selain itu kalau membayar dengan kartu kredit, mereka meminta kita yang menekan tombol OK setelah memasukkan jumlah uang yang akan dibayar. Sedikit berbeda dengan di Indonesia ya.

Saya juga mampir ke salah satu mall di Budapest, yaitu West End. Mall ini terletak bersebelahan dengan Central (stasiun kereta). Saya pergi ke sini dengan menggunakan trem dan membeli tiket 1 days pass supaya bisa ke mana-mana menggunakan bus, trem, dan metro tanpa kena charge tambahan. Padahal ya gak kemana-mana juga sih, paling ke mall dekat hotel untuk belanja.

West End Mall gak jauh dari hotel

Selama berkeliling Budapest, setiap sudut kota ini terlihat begitu cantik. Rasanya ingin bisa tinggal di sini setahun untuk menikmati Budapest. Bahkan kecantikan kota ini menjadikan Budapest diakui UNESCO sebagai World Heritage site sejak tahun 1987. Berikut adalah beberapa tempat yang saya datangi di Budapest.

Hősök tere

Tempat ini disebut sebagai Heroes’ Square atau Alun-alun Pahlawan. Kalau di Indonesia seperti Tugu Pahlawan di Surabaya. Tempatnya memang bagus untuk foto-foto. Kayaknya para rombongan tour suka banget foto-foto di sini sampai habis setengah jam sendiri (padahal kalau cepat bisa 10-15 menit saja).

Hősök tere alias Tugu Pahlawan

Banyak patung-patung di sini

Dekat Hősök tere ini ada Szepmuveszeti Museum atau dikenal dengan Museum of Fine Arts. Selain itu tak jauh dari sini ada Széchenyi Thermal Bath, tempat berendam air panas yang cukup besar. Budapest terkenal dengan tempat air panas ini. Untuk biaya sekali masuk adalah sekitar  5400 saat weekdays (sekitar Rp 250.000).

Gambar diambil dari sini

Sayangnya saat ke Budapest saya tidak sempat mampir ke sini karena tidak terdapat di itinerary. Semoga suatu saat bisa kembali ke Budapest dan mencoba tempat berendam air panas ini.

Sungai Danube

Tahu lagu Blue Danube? Lagu yang sering nongol di film-film diambil dari nama sungai ini. Saya sempat naik kapal dan menjelajahi Sungai Danube menjelang petang. Saya bisa melihat bagaimana suasana Gedung Parlemen Hungary mulai dari sore hari hingga ke malam hari.

Parliament of Budapest di sore hari

Parliament of Budapest menjelang malam

Saat malam hari, Gedung Parlemen Hungary terlihat menyala dengan lampu-lampunya yang cantik. Gedung ini cocok sekali untuk menjadi latar belakang foto.

Halászbástya a.k.a Fisherman’s Bastion

Fisherman’s Bastion adalah bangunan bergaya neo-gothic dan neo-roman yang memiliki 7 menara dan terletak di Castle Hill. Bentuknya seperti teras istana yang memiliki menara, persis seperti istana-istana di film Disney. Nama Fisherman’s Bastion sendiri berasal dari fungsi tempat tersebut sebagai sebuah pasar ikan pada zaman pertengahan.

Salah satu tower di Fisherman’s Bastion

Tampak dari bawah

Pemandangan yang dilihat dari atas

Untuk sampai ke atas harus menaiki anak tangga yang cukup banyak. Ketika sudah mencapai di atas, nantinya bisa melihat pemandangan Budapest yang cantik. Namun ketika sudah di atas, tidak akan merasa sia-sia naik anak tangga yang begitu banyak.

 

Patung King Stephen I 

Oh iya, Fisherman’s Bastion dekat dengan Matthias Church yang bangunannya klasik seperti di film Harry Potter. Tapi emang gereja-gereja di Eropa seperti Budapest, bentukannya memang kayak gini.

Di Fisherman’s Bastion biasanya orang-orang berfoto-foto, duduk-duduk dan melihat pemandangan. Ada juga yang menikmati sinar matahari sembari ngemil. Di atas sini saya sempat membeli Kürtőskalács atau sebut saja Kurtos, roti berbentuk cerobong yang menjadi salah satu snack khas Hungary. Rotinya sungguh enak dan lembut. Di fX menjual roti Kurtos seperti ini, sayangnya entah kenapa berbeda. Lebih enak makan langsung di Budapest. *ya iyalah*

Harganya saat itu 1.300 Forint (sekitar Rp 60.000)

Enak iniiii!

Vörösmarty tér

Apabila ingin berbelanja, ada Vörösmarty tér, semacam city square yang dikelilingi toko dengan bangunan modern hingga klasik dapat menjadi pilihan. Biasanya di tengah-tengah square ini terdapat night market yang menjual makanan-makanan lokal. Saya tidak mencoba makan di sini sih, selain mahal (karena diperuntukkan untuk turis asing) kehalalannya juga diragukan. Tapi penampakan night market ini cukup menggiurkan.

Siang-siang kayak gini

Night market

Aneka kue Hungary

Berhubung saya bertugas menemani rombongan yang ingin berbelanja, maka pilihan terbaik adalah membawa ke Vörösmarty tér yang terdapat banyak tempat berbelanja. Di sini banyak sekali pilihan untuk berbelanja, walau kebanyakan adalah toko souvenir.

Saya datang ke sini tiga kali dalam tiga hari berturut-turut. Entah kenapa saya dan rombongan menuju ke sini apabila ingin berbelanja. Tampaknya Vörösmarty tér memang menjadi tempat rujukan untuk berbelanja.

Di jalan Vaci, terdapat Paprika Souvenir, toko yang menjual aneka souvenir yang cukup lengkap. Karena beberapa kali mengunjungi toko ini, saya jadi berkenalan dengan salah satu penjaga toko yang ganteng *uhuk* bernama Attila. Berdasarkan obrolan dengan Attila, ternyata ia harus bekerja di toko ini demi mengumpulkan uang untuk kuliah. Krisis ekonomi Eropa membuat ia tidak dapat melanjutkan kuliah sehingga harus bekerja. Kami mengobrol cukup lama sementara saya menunggu para peserta rombongan conference yang berbelanja oleh-oleh. Bahkan saya sempat mengajaknya foto bareng. Saya bilang kepadanya, kalau ke datang ke Indonesia, mungkin ia memiliki kesempatan untuk jadi model atau pemain film. Secara bentukannya kayak gini.

Baru kenalan udah ikrib gini…

Sayangnya saya lupa menanyakan akun social media miliknya. Kalau ada yang mampir ke Paprika Souvenir dan ternyata dia masih kerja di sana, tolong bilangin Chika dari Indonesia kirim salam ya. Gak tau sih dia masih ingat atau nggak. xD

Lingkungan yang menyenangkan, tata kota yang cantik, orang-orang sekitar yang baik, serta kedamaian yang saya rasakan di Budapest membuat Budapest mendapatkan tempat di hati saya. Saya berharap suatu hari bisa kembali ke sini.

Iklan

22 thoughts on “I Left My Heart in Budapest

  1. Pink Traveler berkata:

    Cantiknya Budapest pengen ke Eropa Timur karena biaya hidupnya agak mendingan dibanding Eropa Barat trus klo udah ke Hungary sekalian pengen mampir ke Praha, ahelah banyak maunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s