Review Train to Busan

Di siang hari yang cerah saya janjian dengan Alex untuk ngobrol-ngobrol sekalian mau nonton film Korea yang katanya bagus banget itu, Train to Busan. Janjian di Eat & Eat dan seperti biasa kena macet di Sudirman jadinya telat dan memutuskan nonton yang jam 16:30. SUER BUKAN KARENA DANDANNYA LAMA TAPI EMANG SUDIRMAN MUACEEEET BANGET! Tapi apa daya Alex melempar fitnah kalau saya dandannya lama. *bejeg-bejeg Lexy*

Untung setelah itu Alex membelikan saya pancake duren, gak jadi kesel deh. Saya mah anaknya gampang dibikin seneng. Dikasih pancake duren aja udah happy.

Ini pertama kalinya saya nonton di Cinemaxx. Sebenarnya udah pernah nonton di fX tapi masih pada saat bioskop ini masuk dalam jaringan 21 Cineplex. Struktur bioskop masih sama seperti yang dulu. Sayangnya toilet di Cinemaxx entah kenapa rusak jadinya saya harus jauh-jauh ke toilet di luar saat ingin menonton. Untung gak telat masuk bioskop.

Film ini dimulai dengan pertengkaran suami istri di telepon yang telah berpisah. Sang anak Soo-An (Soo-an Kim), ingin bertemu dengan ibunya di hari ulang tahunnya besok. Sang ayah Sook-Wo (Yoo Gong) yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sebenarnya enggan mengantar anaknya ke Busan menuju ibunya, namun melihat betapa menyedihkan si anak, akhirnya ia rela cuti dan mengantar Soo-An ke Busan dengan naik kereta KTX.

Tak disangka, ketika mereka akan berangkat, ada satu perempuan yang terlihat tidak sehat masuk ke dalam kereta. Ternyata perempuan tersebut terinfeksi virus yang menyebabkan dirinya menjadi zombie. Seperti film dengan tema zombie apocalypse, tentu saja perempuan ini berubah menjadi zombie dan mengigit orang-orang yang ditemuinya. Sialnya, tema zombie apocalypse kali ini adalah tipikal zombie cepat, yang berubahnya cepat dan larinya cepat. Persis seperti film World War Z.

ke-toilet

Ada apaan tuh di kereta?

Saat itu Sook-Wo sedang tertidur, Soo-An yang ingin pipis dan pergi ke toilet di kereta. Karena toiletnya penuh, Soo-An menelusuri kereta mencari toilet yang kosong. Ketika Sook-Wo terbangun dan mendapatkan anaknya tidak ada di kursi, ia pun segera mencari Soo-An. JREEEENG, saat menemukan Soo-An, di saat itu pula zombie mulai menggigit para penumpang. Sook-Wo segera menggendong Soo-An dan berlarian menuju gerbong berikutnya.

Selanjutnya mereka harus mencoba bertahan hidup di dalam gerbong kereta yang sebagian isi kereta penuh dengan zombie. Di sini para survivor yang dihighlight antara lain Sook-Wo dan Soo-An, pasangan suami istri Sang Hwa dan Sung Gyeong, dua remaja Young Gook dan Jin-hee, dua nenek-nenek yang saya gak tahu namanya, dan satu orang stress.

train-to-busan-big-poster

Kalian tidak perlu menghafalkan nama-nama mereka, cukup bilang si bapak, si anak, remaja cewek, remaja cowok, suami siaga, istri hamil, duo nenek-nenek, dan orang stress.

Oh iya, saya belum bilang ya si istri Sung Gyeong tuh lagi dalam keadaan hamil gede. Bayangin, ibu-ibu hamil harus menghadapi zombie apocalypse. Saya jadi teringat Lori di film The Walking Dead.

suami-istri

Istri hamil dan suami siaga

Film ini memperlihatkan karakter-karakter manusia mulai dari yang egois sampai dengan yang ingin menolong sesama. Banyak adegan penuh derai air mata di film ini. Siapkanlah tissue atau bahu teman sebelah untuk meperin umbel.

Sepanjang film, rasanya saya dibuat sulit bernafas. Baru lega sedikit, eh ada ketakutan lainnya. Ketika berhasil melewati satu rintangan, eh ada lagi yang bikin greget. Asli, nonton ini berasa kayak abis marathon!

Apakah Sook-Wo dan Soo-ahn dapat bertahan hidup sampai akhir film? Bagaimana kehamilan Sung Gyeong setelah berlari-larian dikejar zombie. Tonton langsung aja Train to Busan. Masih ada di bioskop-bioskop non 21 Cineplex.

Melihat komentar-komentar trailernya di Youtube, banyak sekali orang di luar Korea yang penasaran dengan film ini. Bahkan di Amerika sendiri film ini dicari-cari penonton. Buat saya pribadi, skor film ini 8.5/10. Wuooo tinggi banget! Karena saya puas nonton ini. Semacam mendapatkan ketegangan yang diinginkan.

Kalau nonton filmnya, lupakan bagaimana awal virus zombie menyebar dan gak perlu cari tahu bagaimana akhirnya bisa menular hingga ke semua orang, karena yang diangkat dalam cerita ini adalah kisah orang-orang yang terjebak di dalam kereta bersama zombie.

Tontonlah film Train to Busan kalau ingin menyaksikan film yang bermutu. Dan seperti biasa, film Korea selalu bisa mengaduk-aduk emosi. Saya jadi pengen nonton film ini lagi beserta camilan. Katanya dedek ini, kalau nonton film Train to Busan dijamin camilan gak bakal kesentuh.

Mari dicoba~

58 thoughts on “Review Train to Busan

  1. oreocheesecake berkata:

    Hwaaaaa aku dibilang dedeeeek ~~~~ X”))))
    #Merona #Merah
    #TernyataAnggurMerah
    #TjapOerangToea
    (kemudian diblock dari akses blog Kak Chika)

    Etapi, aside from the story and all. product placement di film ini lumayan kece juga sih… hahaha. Semuanya jadi kayak part of the story, nggak sekadar numpang ngiklan. Padahal ada yang mentereng banget disorotnya sampai hampir menuhin satu layar :)))

  2. @beradadisini berkata:

    kalo liat mungkin mirip The Mist-nya Stephen King, ya. yang di-highlight juga adalah karakter-karakter asli manusia pas dihadapkan pada usaha survival😀 aku mau nonton sebenernya tapi kok jadi males liatin muka zombie-nya yang di trailer di atas itu😄 LOL😄 nanti cari temen buat nontonnya dulu😛

  3. Payjo berkata:

    Baru nonton kemaren karena bajakan versi beningnya sudah keluar👿
    Pas awal, Soo Ahn itu cowok karena kurang “cantik”. Eh nyadar nggak, zombie di film ini agak mirip sama film vampire jaman dulu yang suka tayang di RCTI kalo siang-siang karena zombienya sensitif sama suara. Dan kayaknya baru di film ini ada zombie yang penglihatannya nggak berfungsi kalo gelap. Makanya setting filmnya siang sepanjang siang, padahal kalo malem zombienya tetep bisa liat, lebih serem kayaknya.

    • cK berkata:

      Beda virus, beda kemampuan ya zombienya. Tapi di film World War Z kalau gak salah zombienya mirip-mirip gitu. Cepat, terus sensitif sama bunyi, dan bisa idle kalau mereka gak ngapa-ngapain.

  4. Ressitaa berkata:

    pemeran Soo-An itu putri dari wanita indonesia yang nikah sama org korea lohh..😄 nama ibunya yenni Kim (ngga nanya.. :v) wkwk

  5. Nonna berkata:

    aarrrgghhhh geregetan sama endingnya…😦😦😦
    Kenapa Sook-Wo gak dibikin hidup aja sih sampe akhir😦😦😦
    Kayak film indo gitu ujung2nya cinlok merid wkkwkwkw

    Menguras emosi banget ini film, sampe mewek gw. Biasanya gw kebal banget nonton film yg sedih2😀

  6. ekahei berkata:

    Karena tinggal di daerah yg nggak ada jaringan bioskop, dan review ttg film ini sangat bagus di dunia maya, akunya penasaran… bahasnya masih gantung. hehehe, anak kecilnya selamat nggak?🙂

  7. Alexa Stephanie-young berkata:

    Makan Samyang pas nonton ini(nonton bajakannya :v), endingnya ga berani makan samyang, mual mual dah lliat si zombie.. btw endingnya greget sumpah, wae? kaga ada yang cinlok deh :v .. O iya, ini ada lanjutannya atau cuma stuck di ending situ aja?

  8. ri berkata:

    kok menurutku biasa aja yaa filmnyaa.. lebih seru World War Z karnaa ada solusinya. hehe.. kalo ini entah bagaimana lah endingnya.. terlalu drama untuk sebuaf film thriler, tapi namanya juga film kore yaa. hehe.. kalo yg ud nonton World War Z kyaknya bakal garing deh liat film ini.. hehe. Itu pendapatku sih.. tapi make up effect nyaa ud okee punyaa :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s