Festival Sriwijaya XXV di Palembang

jembatanamperaSetelah tahun 2008 terakhir berkunjung, akhirnya kembali lagi menginjakkan kaki di Palembang. Kali ini dalam rangka memenuhi undangan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Palembang untuk menyaksikan pembukaan Festival Sriwijaya XXV yang berlangsung dari tanggal 18-24 Juli 2016 di Benteng Kuto Besak.

Saya masih ingat sempat ke sini bersama anak-anak Wongkito dengan tujuan Pulau Kemaro, namun batal karena kapal tiba-tiba mogok dan hujan. Untungnya kali ini saya sempat mampir ke Pulau Kemaro dan melihat sejarahnya yang sangat menarik.

Berkunjung ke Palembang kali ini saya tidak hanya dimanjakan dengan kuliner Palembang yang enak-enak, namun saya juga disuguhi dengan sejarah dan budaya Palembang. Saya tidak sendirian di sini. Bersama Goenrock, Ariev, Gladies, Febrian, dan Kang Motulz, kami mengunjungi tempat-tempat keren. Selama perjalanan saya mendapatkan banyak cerita sejarah yang sangat menarik. Berikut tempat-tempat yang saya kunjungi selama di Palembang.

Museum Balaputra Dewa

Hari pertama menapakkan kaki di Palembang, saya bersama rombongan langsung diajak ke Museum Balaputra Dewa yang ternyata ada PokeGym dan Pokestop di sana. Di museum ini terdapat ukiran besar yang menyambut pengunjung. Ukiran relief menceritakan mengenai Sumatra Selatan mulai dari adat, pakaian, kegiatan orang Palembang, sampai alat-alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semua tertuang dalam relief tersebut.

Relief Balaputra Dewa

Relief Balaputra Dewa

Di sini pengunjung bisa melihat berbagai arca dari jaman pra-sejarah dalam bentuk asli maupun replika. Para pecinta sejarah pasti bahagia mampir ke museum ini. Kewajiban di museum ini adalah foto Rumah Limas bersama uang 10 ribu, karena rumah inilah yang tercantum di uang kertas berwarna ungu tersebut. Mengenai isi museum ini tampaknya akan saya bahas di postingan terpisah.

rumah limas

Rumah Limas yang ada di uang 10.000 rupiah

Saya memasuki Rumah Limas dan dijamu dengan pempek di sana. Sungguh menyenangkan bisa menikmati pempek Palembang di dalam rumah adat Palembang. Oh iya, Rumah Limas ini gak dibuka untuk umum, tapi dibuka khusus kami yang mengunjungi tempat tersebut. *bangga*

Pulau Kemaro

Setelah dulu gagal ke sini, akhirnya sekarang kesampaian juga. Sesampai di sini ternyata lagi ada resepsi pernikahan. Waw, saya baru tahu kalau di sini bisa jadi tempat pernikahan. Lucu juga sih konsepnya, walau ke sini harus usaha naik perahu dulu. Di Pulau Kemaro terdapat makam dari putri Palembang yaitu Siti Fatimah. Menurut cerita yang tertulis di batu dekat Klenteng Hok Tjing Rio yang di dalamnya terdapat makam.

klenteng pulau kemaro

Di dalam Klenteng ini ada makam

Bermula dari zaman dahulu di mana seorang pangeran dari negeri Cina bernama Tan Bun Han datang ke Palembang dengan tujuan berdagang berdagang. Ketika hendak meminta izin ke Raja Palembang, ia bertemu dengan putri raja yang bernama Siti Fatimah. Ia langsung jatuh hati dan gayung pun bersambut, Siti Fatimah juga merasakan hal yang sama.

Mereka menjalin kasih dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Kemudian Tan Bun An mengajak sang Siti Fatimah ke daratan Cina untuk menemui orang tua Tan Bun Han. Setelah bertemu dengan orangtua Tan Bun Han, keduanya kembali ke Palembang bersama tujuh guci yang katanya berisi emas.

legenda pulau kemaro

Sesampai di muara Sungai Musi, Tan Bun Han ingin melihat hadiah emas di dalam guci-guci tersebut. Namun setelah melihat isi guci, hanya terdapat sayuran sawi-sawi asin. Tanpa berpikir panjang ia membuang guci-guci tersebut ke laut. Guci terakhir terjatuh di atas dek dan pecah yang ternyata di dalamnya terdapat emas. Tanpa berpikir panjang, Tan Bun Han terjun ke dalam sungai untuk mengambil emas-emas dalam guci yang sudah dibuangnya.

Seorang pengawalnya juga ikut terjun untuk membantu, tetapi kedua orang itu tidak kunjung muncul. Siti Fatimah yang melihat peristiwa itu akhirnya menyusul dan terjun juga ke Sungai Musi, namun ketiganya tidak pernah muncul kembali. Maka untuk mengenang mereka bertiga dibangunlah sebuah kuil dan makam.

makam siti fatimah

Makam Siti Fatimah. Tapi katanya sih kosong…

Sungguh cerita yang menyedihkan. Supaya gak terlalu sedih, sekalian saya kasih tahu di sini terdapat 4 Pokestop dan 1 PokeGym. Jadi sering-sering aja mampir ke Pulau Kemaro.

Kampung Arab Al-Munawwar

Di Palembang terdapat Kampung Arab yang penduduknya terdiri dari orang-orang keturunan Arab. Sewaktu ke sana, saya seperti bertemu saudara, mengingat saya sendiri ada keturunan Arab. *eh*

Kebetulan pas ke sana lagi ada haul (hajatan pernikahan) dan saya beserta teman-teman lainnya diundang untuk makan siang dengan cara yang unik. Makan siang ini penuh keakraban karena sepiring ini dinikmati beramai-ramai. Namun saya akui nasi minyak dari Kampung Arab Al-Munawwar ini ENAK BANGET!

makan nasi minyak

Makan bersama biar akrab. Ada yang bisa nebak ini tangan siapa aja?

Lihatlah piring besar ini beserta nasi minyak dan daging kambing di atasnya. Walau saya tidak makan kambing, ada ikan balado yang enak banget untuk menemani makan nasi. Duh saya jadi lapar lagi kalau ingat makanan ini…

Jakabaring Sport Center

Palembang punya Sriwijaya Football Club yang merupakan tim Indonesia pertama yang memiliki stadion sepakbola. Beruntung saya dan yang lainnya memiliki kesempatan untuk melihat ke dalam stadion dan foto-foto. Di stadion ini juga ada press room yang sangat rapi dan bersih. Dengan adanya press room ini mempermudah media yang ingin meliput pertandingan sepakbola.

Kami juga diajak melihat lapangan bola yang luas dan kosong. Tentu saja yang lainnya tidak melewatkan kesempatan ini dan berfoto-foto di lapangan bola. Jarang-jarang khan bisa main ke lapangan sepakbola dan sepinya kayak gini?

lapangan bola

Lapangan sepakbola Sriwijaya FC

Selain stadion sepakbola, saya juga mampir ke Jakabaring Aquatic Stadium, tempat para atlet renang berlatih. Kolamnya besaaaaar sekali. Selain itu saya juga naik ke atas untuk foto-foto. *teteup*

Jakabaring Aquatic Stadium

Jakabaring Aquatic Stadium

Saya dan yang lainnya masuk untuk berkeliling kolam renang, sedangkan Kang Motulz memutuskan untuk membuat sketsa Jakabaring Aquatic Stadium. Kang Motulz kalau menggambar memang jagoan! Sementara Goenrock juga ikut menemani Kang Motulz untuk merekam aksi menggambarnya.

Di dalam, saya bersama Ariev, Gladies, dan Febrian berfoto-foto ria. Apalagi ketika melihat area melompat yang sungguh tinggi, kami memutuskan naik ke atas untuk berfoto-foto di sana. Ya namanya juga blogger, pasti pengen banyak foto-foto untuk diupload di Instagram blog.

kolam renang

Bagus yaaaa kolamnya😀

tinggi

Dari ketinggian 5 meter nih…

Untungnya saya gak takut tinggi, jadi santai aja melakukan foto-foto di sini.😛

Duh rasanya pengen terjun ke bawah hahahaha~

Bait Al-Quran Al-Akbar

Kalau selama ini saya hanya melihat foto-fotonya di Instagram teman-teman saya, akhirnya saya bisa mengunjungi tempat ini. Tempatnya ramai sekali, para pengunjung ada banyak walau bukan hari libur. Untuk masuk ke sini cukup mengeluarkan kocek 5000 rupiah. Disediakan rak sepatu karena masuk ke sini harus melepaskan alas kaki. Bagi yang merasa pakai sepatu mahal sebaiknya sepatunya dibungkus atau ditenteng saja daripada nanti tertukar.

alquran al akbar

 

Megah sekali yaaaa~

Tempatnya tinggi banget, dengan ayat-ayat Al-Quran terpampang nyata dalam tiap lembar papan. Pengunjung di sini semua berfoto-foto dengan latar belakang ayat-ayat Al-Quran tersebut. Selain itu di luar menjual souvenir-souvenir yang cukup menarik. Kalau ke Palembang, cobalah mampir ke sini.

Pembukaan Festival Sriwijaya XXV

Setelah serangkaian tour keliling Palembang, akhirnya tiba juga pembukaan Festival Sriwijaya yang dimeriahkan dengan aneka kesenian dan budaya Sumatra Selatan. Pawai Karnaval Festival Sriwijaya XXV dimulai pada siang hari di Kambang Iwak, sebuah taman yang menjadi tempat nongkrong warga Palembang.

Saya takjub dengan keragaman pakaian tradisional daerah-daerah di Indonesia yang sangat anggun dan cantik. Salah satu pakaian yang menarik mata saya adalah kostum Burung Migran Banyuasin ini. Cantik sekali!

Puncaknya pembukaan Festival Sriwijaya adalah di Benteng Kuto Besak, tempat berlangsungnya Festival Sriwijaya XXV sampai tanggal 24 July 2016. Serangkaian seni, tarian, dan aksi panggung mewarnai malam pembukaan ini.

Para pemburu Pokemon Go juga pasti bahagia berada di sini karena banyak Pokestop. Apalagi saat acara berlangsung, saya memasang Lure agar para Pokemon berdatangan ke sini.😛

kesenian

Tari Gending Sriwijaya

Selain pameran seni dan kebudayaan, ada juga Festival Kuliner Sriwijaya yang pastinya dapat memuaskan para pengunjung dengan aneka masakan khas Palembang yang enak banget. Saya sendiri membeli nasi minyak (karena masih rindu dengan nasi minyak yang disajikan di Al-Munawwar) dengan sate pentol. Kemudian jajan kue-kue khas Palembang dan membeli pancake durian. Bahagia sekali bisa hadir di Festival Sriwijaya XXV ini.

nasi minyak

Nasi Minyak enak!

nasi minyak dan sate pentul

Nasi minyak dan sate pentol. Harganya 20 ribu.

Festival Kuliner Sriwijaya ini sungguh menyenangkan. Saya membeli nasi minyak + sate pentol, kue-kue Palembang, pancake duren dan siomay organic. Puas banget rasanya perut ini. Gak heran kayak setelah pulang dari Palembang saya bakal gendutan.😆

Menurut saya Festival Sriwijaya ini dapat menjadi magnet wisatawan untuk berkunjung ke Palembang. Apalagi tahun 2018 nanti Palembang akan menjadi tuan rumah Sea Games 2018, semakin banyak alasan untuk datang ke Palembang.

Festival Sriwijaya Poster

Datang ya!

Saya berharap festival semacam ini makin sering diadakan di Palembang. Kalau bisa, Festival Sriwijaya mungkin bisa diadakan dengan durasi lebih lama, misalnya dua minggu atau sebulan seperti Pekan Raya Jakarta.

Video dibuat oleh Goenrock

Terima kasih Ibu Irene Camelyn dari Dinas Pariwisata Sumatra Selatan atas sambutan dan kehangatan yang diberikan. Saya senang sekali bisa menikmati kuliner Palembang sekaligus diberikan ilmu sejarah dan kebudayaan Palembang. Rasanya saya ingin mengunjungi semua pelosok Sumatra Selatan setelah mendengarkan sejarahnya yang begitu menakjubkan.

bersama bu Irene

Rombongan dari Jakarta bersama Bu Irene dan blogger-blogger Palembang

Terima kasih mbak Ira, Suzan, Mas Robby, Joni, Rifqi, dan Nana yang sudah menemani saya dan teman-teman selama di sana. Bagi yang sedang di Palembang, jangan lupa datang ke Festival Sriwijaya XXV di Benteng Kuto Besak dan nikmati sajian seni, budaya, serta kuliner Palembang.😀

22 thoughts on “Festival Sriwijaya XXV di Palembang

  1. febridwicahya berkata:

    Gilaaaak Jakabaring Aquatic itu ternyata fotoable banget ya Mbak tempatnya😀 kereeen kalau foto disitu, walaupun nggak renang😀

    Eng… nasi minyaknya ._. bikin nelen ludaaah teruus. Lapeeer :’

  2. Ata berkata:

    Chikaaaa ku iri. >.<
    Yang orang Palembang aja blm pernah ke Balaputra Dewa 😂😂😂
    Btw nasi minyak yg paling enak itu di Kuto, duh bayanginnya aja aku jadi laperrrrr

    • cK berkata:

      Hahaha ayo orang Palembang ke Balaputra Dewa! Ada Rumah Limas di sana. \o/

      Kuto itu di manaaa? Aku pengen balik lagi ke Palembang. 😂😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s