Kamis Meringis di Jakarta

jakarta beraniPagi ini saya bangun tanpa merasakan tanda apa pun. Saya sarapan, mengecek email dan akun social media, main game sebentar, bermain dengan keponakan, lalu mencoba merakit lemari yang saya beli di Ikea.

Sekitar setengah jam sibuk merakit, akhirnya lemari selesai juga. Senang rasanya bisa merakit lemari sendiri tanpa bantuan orang lain. Selesai merakit, saya menaruh di kamar saya. Maklum, saya adalah seorang hoarder—sebutan bagi orang yang suka menimbun barang. Karena itulah saya butuh lemari lagi di kamar. Padahal jumlah lemari di kamar sudah ada empat. Satu lemari baju, satu lemari khusus tas, dan dua lemari buku. Maka dengan tambahan satu lemari ini, total ada lima lemari di kamar.

Selesai menata lemari, handphone saya berbunyi. Ternyata dari Papa saya. Kok tumben ya nelpon jam segini? Semoga bukan menanyakan apakah saya sudah sarapan apa belum.

“Chika lagi di mana?”
“Di rumah. Kenapa pap?”
“Katanya ada bom di Sarinah. Kamu jangan ke mana-mana dulu ya.”

Setelah mematikan handphone, saya segera menyalakan televisi dan mengecek akun social media. Benar saja, ternyata ada ledakan di pos polisi Sarinah. Saya menelusuri timeline Twitter dan mendapati foto-foto ledakan. Untungnya teman-teman yang saya follow cukup pintar dan tidak membagikan foto korban ledakan.

Sedangkan WhatsApp group ramai bukan main, membagikan video, membagikan foto, hingga berita-berita yang saya rasa hoax. Saya sendiri hanya terdiam saja tanpa memberikan respon berlebihan. Saya sadar dengan adanya kejadian seperti ini, rentan tersebar berita-berita hoax.

Menurut saya beberapa hal yang perlu diantisipasi ketika ada kejadian seperti hari ini adalah:

  • Memastikan semua anggota keluarga baik-baik saja.
  • Mengikuti perkembangan berita dan tidak menyebarkan berita yang belum dikonfirmasi dengan jelas.
  • Tidak membuat spekulasi atau asumsi-asumsi sendiri dan menyebarkan di social media.
  • Waspada akan berita yang masih berupa rumor atau hoax.
  • Selalu konfirmasi terlebih dahulu berita yang ingin kamu sebarkan di social media. Jangan langsung sebar tanpa cek dan ricek.
  • Jangan menyebarkan foto-foto korban. Hormatilah korban dan keluarganya dengan tidak menyebarkan foto yang mengenaskan. Kalau pun ingin disebarkan, usahakan disensor terlebih dahulu. Gak susah kok nyari aplikasi sensor gambar.
  • Kalau gak kepepet banget, usahakan agar tetap di rumah, kantor, atau tempat yang aman dan jauh dari tempat kejadian perkara. Hindari pusat perbelanjaan juga karena tempat ramai rentan jadi sasaran.
  • Beli makanan untuk persediaan. Terus terang karena kejadian hari ini, saya dilarang ke luar rumah oleh orang tua saya. Mana makanan di rumah tinggal sedikit. Untung ada Gojek, jadi saya bisa memesan makanan melalui mereka.

Demikian hal-hal yang menurut saya perlu diperhatikan dalam menanggapi teror seperti hari ini. Yang point terakhir sebenarnya curhat diri sendiri sih. Semoga Indonesia bisa kembali aman seperti sedia kala.

Stay safe, friends…

13 thoughts on “Kamis Meringis di Jakarta

  1. puputs berkata:

    “Tidak membuat spekulasi atau asumsi-asumsi sendiri dan menyebarkan di social media.”

    Point penting banget tuh… simpang siur malah bikin kacau.. apalagi yg membuat asumsi adalah tv nasional.. zzzzzzzz

  2. Dita berkata:

    Aku jg lelah sama yg debat hestek kaaaak, ada yang bilang dilarang doa lah, ada yg bilang hesteknya songong. Hadeuuu yg penting isi pesannya positif lahh apapun hesteknya….lelah akuuu lelaaaahh –“

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s