Menghadiri Upacara Rambu Solo di Toraja

TorajaTripTahun Baru 2015 kemarin saya lewatkan di Toraja. Bisa dibilang ini pertama kalinya saya merayakan tahun baru di luar Jakarta. Dalam perjalanan #TorajaTrip ini saya tidak pergi sendirian, karena saya pergi bersama Popon, Fanny, Icha, mbak Renny, Ojan, Adit, Shiera, dan tentunya Yohan yang mengundang kami untuk hadir ke upacara kematian neneknya.

Upacara Rambu Solo adalah upacara pemakaman adat Toraja. Di Toraja sendiri orang yang meninggal belum dianggap meninggal kalau belum dimakamkan. Biasanya orang yang meninggal tersebut masih tinggal di rumah dan diperlakukan seperti layaknya orang hidup yaitu diberi makan dan diajak ngobrol.

Karena biaya Rambu Solo yang cukup mahal (konon bisa mencapai milyaran), maka keluarga yang ditinggalkan mengumpulkan uang untuk mengadakan upacara Rambu Solo. Nenek-nya Yohan sendiri meninggal dari 3 tahun yang lalu dan upacaranya baru dilaksanakan pada sehari setelah tahun baru.

Katanya hanya orang bergelar bangsawan atau kalangan berada yang menggelar upacara ini. Makanya begitu Yohan ngajakin ke acara ini, sempat galau 2 minggu karena awalnya Mama saya mau ikutan lalu mendadak gak jadi. Namun akhirnya saya akhirnya memutuskan pergi seminggu sebelum keberangkatan karena bisa menghadiri acara Rambu Solo yang diadakan teman sendiri itu sangat jarang adanya. Dan ternyata Popon dan Fanny juga ikut! Yay banget!

peserta torajatrip

 Peserta #TorajaTrip (foto dari blog Yohan)

Acara Rambu Solo nenek-nya Yohan dimulai pada tanggal 2 Januari. Sesampai di tempat acara yaitu di Kendenan, sudah terlihat banyak pondokan. Kata Yohan itu pondokan untuk saudara A, saudara B, dll. Pondokannya ada banyak dan yang pasti di tiap pondokan ini ada makanan! Terlihat Tongkonan, rumah adat Toraja yang merupakan tempat tinggal sang nenek. Di sinilah nenek-nya Yohan tinggal dan di sini pula diadakannya upacara Rambu Solo

Tongkonan, rumah adat Toraja

Acara Rambu Solo ini terdiri dari Ma’Badong, yaitu sekumpulan orang membentuk lingkaran dan ‘menyanyi’ mengucapkan doa. Sekilas hanya terdengar suara “Eeeee… Oooo…” namun sebenarnya ada doa-doa yang diucapkan sepanjang nyanyian tersebut.

Kayak gini nih Ma’Badong

Lalu ada juga acara adu kerbau. Dua kerbau dari masing-masing keluarga diadu, tapi gak sampai mati, melainkan yang kabur duluan yang dinyatakan kalah. Saya lupa nanya apa ada hadiahnya bagi kerbau yang menang.

babi

Babi yang bakal dipotong. Beratnya 120kg, ingusan pula!😯

Kemudian ada juga acara pemotongan kerbau dan babi. Kerbau yang dikurbankan di acara Rambu Solo ini kalau gak salah jumlahnya ada 16. Salah satunya adalah kerbau bule tapi katanya sih yang kerbau bule gak dipotong (harganya setara mobil bok!). Kerbau bule ini disebut dengan nama Tedong Bonga. Matanya kayak bule!

Cantik ya kerbaunya!😀

Yang saya suka dari acara ini adalah makanan yang berlimpah! Aneka kue yang dibuat oleh keluarganya Yohan ini enak-enak. Eh tapi berat badan saya gak naik lho selama di Toraja. Mungkin karena di sini banyak gerak dan mendaki perbukitan.😆

camilan

Camilaaaaan!

Makanan yang disajikan di sini kebanyakan daging babi dan kerbau. Karena paling banyak yang dipotong adalah babi, maka berbahagialah para pemakan babi. Lihatlah Popon yang tampak bahagia sekali mukanya saat mengambil nasi.

Karena makan adalah momen menggembirakan dalam hidup… #TorajaTrip #Basian

A photo posted by Alderina (@alderina) on

Muka bahagia Popon

Selain ada aneka babi seperti sate babi, tongseng babi, pa’piong babi, juga ada yang bisa saya makan, seperti sayur, daging kerbau, dan pa’piong ikan. Pa’piong itu merupakan makanan yang dimasak dengan menggunakan bambu. Saya sempat mencicipi pa’piong ikan, ikan pamerasan, dan daging kerbau.

Dari semua acara Rambu Solo, yang paling bikin penasaran adalah, “Benarkah jenazah orang Toraja meninggal bisa jalan sendiri?

Dan inilah faktanya.

Menurut sumber orang Toraja sendiri yaitu Papa-nya Yohan, hal itu benar adanya. Namun hanya berlaku bagi mereka yang menganut kepercayaan Animisme. Biasanya mereka memotong kepala babi untuk dijadikan pajangan. Lalu orang yang meninggal di-‘doa-doa’-kan dengan ilmu hitam sehingga bisa berjalan sendiri menuju kuburan batu yang terletak di tempat tinggi.

Tuh, tinggi yaaaa!

Dahulu kuburan batu tempat orang-orang Toraja ini tinggi banget dan sulit dijangkau, makanya orang yang meninggal tersebut diberi ilmu hitam supaya bisa jalan sendiri ke kuburan mereka. Sekarang kuburan batu sudah bisa diakses dengan dibuat lubang yang bisa dimasukin orang. Plus ada tangga khusus juga sih.

Sampai sekarang masih ada gak jenazah yang bisa jalan sendiri?

Katanya sih masih, tapi bagi mereka yang masih menganut kepercayaan Animisme. Sedangkan orang Toraja sendiri mayoritas pemeluk agama Kristen dan bagi mereka yang Kristen tidak bisa melakukan hal seperti yang dilakukan oleh penganut Animisme.

Selain itu orang Toraja biasanya membuatkan patung yang menyerupai orang yang meninggal tersebut. Katanya itu sudah merupakan adat dan patung tersebut biasanya diletakkan dekat dengan kuburannya. Namun pembuatan patung yang menyerupai diri ternyata juga gak boleh untuk orang Kristen. Eh tapi di kuburan batu ada beberapa patung-patung yang menyerupai orang bahkan ada yang masih sedang dibuat lho!

Londa, salah satu kuburan batu yang menjadi tempat pariwisata

Ah jadi makin penasaran dengan sejarah Toraja ini. Tapi sudah terjawab ya mengenai misteri ‘mayat jalan sendiri’ itu. Karena saya mendapatkan jawabannya langsung dari orang Toraja, anggap aja jawaban tersebut valid.😛

18 thoughts on “Menghadiri Upacara Rambu Solo di Toraja

      • cK berkata:

        Katanya sih ada balsem khusus supaya tetap awet. Gak tahu wujud terakhir nenek-nya seperti apa, soalnya kemarin udah masuk peti.

        Kalau orang Sumba yang punya adat mirip-mirip gini bilangnya ada ‘ilmu khusus’ supaya jenazah tetap awet sampai bertahun-tahun.🙄

  1. titiw berkata:

    Awww senangnya udah ke Toraja. Aku aja yang orang Makassar belum pernah ke sana. Hahahah.. Iya tuh, itu misteri yang gak bisa dipecahkan kenapa mayat orang sana “:katanya” bisa jalan sendiri. FYI sistem penguburan orang mati di sana itu bikin yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin. Pantes aku pernah baca2 kalo banyak orang Toraja yang biasa2 aja level kekayaannya memutuskan untuk keluar dari sana biar gak makin terpuruk. Nice pictures Chik!

    • cK berkata:

      Makassar ke Toraja lumayan jauh yaaa, kemarin naik ELF nyampe 10 jam di jalan (karena pakai acara berhenti dan makan dulu). Btw yang miskin katanya sih gak mengadakan upacara kayak gini, jadi dikubur biasa aja atau mengadakan upacara seadanya.

      Oh iya, orang Toraja juga mirip sama orang Padang, yaitu mereka harus merantau. Orang tuanya Yohan aja gak tinggal di Toraja, melainkan di Sorowako. Yohan dan adiknya tinggal di Bandung. Benar-benar merantau.:mrgreen:

  2. ndop berkata:

    Agak agak kriipi ngelihat makam di sana ituuu.. Huwiiih.. Baca cerita yg bisa jalan sendiri itu juga bikin merinding, apalagi sekarang jam.. hampir setengah dua pagi.. Errrrrr…

  3. Eija berkata:

    Salam Nusantara saudari. Menarik sekali catatan ini. Lebih-lebih lagi saya memangnya mencari maklumat ini. Sangat kepingin mahu melihat sendiri acara ini. Kalau enggak keberatan, saya mohon dapat dihubungkan dengan temannya itu Yohan supaya dapat saya kumpul informasi yang lebih. Mahu juga tahu kapan lagi acara ini bakal dilangsungkan. Terima kasih.
    Boleh hubungi saya : khadijah_mtm@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s