PR Sesungguhnya Untuk Jokowi dan Ahok

Pada suatu malam saya berkumpul dengan Didut, Popon, Alle, dan Pitra di sebuah resto fast food (saya gak makan, soalnya lagi diet *ini penting untuk diklarifikasi*). Terlihat di sana ada orang asing (tampaknya orang India) yang membuang sisa makanan dan bungkusnya ke counter khusus sampah makanan.

Dari situ kami membahas bagaimana orang asing memiliki kebiasaan untuk membuang sisa makanan, daripada meninggalkannya di meja.

Kalau di Indonesia (di Jakarta tepatnya), setelah selesai makan, sisa makanan dan bungkusnya ditinggalkan di meja. Hal ini tentunya membuat bagian cleaning service yang membersihkan sisa sampah tersebut.

Syukur kalau resto-nya memiliki tenaga cleaning service yang memadai, bagaimana kalau cuma sedikit? Misalnya saja kalau kita makan di resto fast food, sehabis makan biasanya orang-orang langsung meninggalkan sisa makanannya di meja tanpa berinisiatif untuk membuangnya ke tempat sampah yang sudah disediakan. Alhasil pengunjung selanjutnya yang membuang sampah tersebut agar bisa duduk, atau segera memanggil petugas untuk membersihkan.

Gambar diambil dari sini

Di 7 Eleven, sebagai mini market yang menjual aneka makanan, kebiasaan membuang sampah sendiri sudah cukup terangkat. Memang ada beberapa ignorant people yang membiarkan makanannya di meja dengan harapan ada cleaning service yang membersihkannya. Namun dari pengunjung yang saya lihat, mereka sudah ada kesadaran untuk membuang sisa makanan ke tempat sampah.😀

Biasakan membuang bungkusnya setelah makan

Kalau saya pikir-pikir, sifat ketidakpedulian ini yang harus dihilangkan oleh warga Jakarta dan kesadaran akan kebersihan ditingkatkan.

Contoh lainnya adalah di jalanan. Misalnya sebuah belokan yang memiliki tanda dilarang putar balik, namun mobil-mobil tetap cuek belok di rambu ini, padahal jika maju sekitar 100 meter sudah ada tempat putar balik resmi yang tentunya lebih aman dan nyaman. Namun orang Jakarta lebih suka belok di tempat yang tidak seharusnya dan kucing-kucingan dengan polisi jika terlihat.

Selain itu banyaknya kendaraan bermotor yang suka sekali melewati jalan yang berlawanan arah. Yang lebih parah adalah motor yang suka tiba-tiba nyelonong pas lampu merah atau motor yang suka naik trotoar dan mengancam keselamatan pejalan kaki. Lalu terkadang pejalan kaki yang dengan cueknya menyeberang ketika lampu lalu lintas sedang hijau, seperti sedang mengantar nyawa. Wah minim sekali kesadaran mereka akan lalu lintas!

Balik lagi ke persoalan buang sampah. Jakarta gak mudah banjir kalau orang-orangnya gak membuang sampah sembarangan. Saya masih sering melihat orang membuang tisu dari atas mobil. Atau setelah membuka plastik tutup botol air mineral, sampahnya langsung dibuang begitu aja. Bahkan saya pernah protes sama orang yang membuang sampah sembarangan di jalan, ditanggapi dengan komentar, “justru saya ngasih pekerjaan sama tukang sapu jalanan.”

Gambar diambil dari sini

Kecilnya kesadaran untuk mentaati peraturan seperti ini yang menurut saya adalah PR bagi kita semua. Dan menurut saya ini juga menjadi PR sesungguhnya untuk Jokowi dan Ahok, bukan hanya sekadar merealisasikan MRT atau menambah transportasi massal, melainkan meningkatkan kesadaran warga Jakarta. Bisakah Gubernur dan Wakil Gubernur baru DKI Jakarta ini membuat peraturan yang dapat ditaati oleh warganya?

.

Sumber foto di atas dari sini.

58 thoughts on “PR Sesungguhnya Untuk Jokowi dan Ahok

  1. galeshka berkata:

    Bukti kesuksesan pasangan ini yang paling gampang adalah tersedianya tempat sampah yang memadai di jakarta. Di Sudirman yang notabene jalan protokol besar aja utk buang sampah dengan benar harus jalan dulu 50-100m baru ketemu tong sampah …

      • Ayunda Swacita berkata:

        Hmm, sepengalaman ku tinggal di Seoul 16 bulan, tong sampah jarang banget ditemuin di fasilitas umum seperti mrt dan mall. Gue sempat bingung kenapa Seoul masih tetap bersih dan rapih walau sulit sekali menemukan tong sampah.

        Suatu hari pada saat ke toilet umum di mrt akhirnya gue paham kemana sampah itu dibuang. Seorang ajuma (sebutan ibu-ibu di Korea) akan menyimpan sampah keringnya di kantong plastik lalu meletakkan di tas jinjingnya. Lalu setelah keluar, tidak sengaja arah berjalan gue searah dengan ajuma tersebut dan melihatnya mengeluarkan kantong plastik dari tas lalu membuangnya ke tong sampah. Hahaha, jujur pas pertama kali gue syok dan malu.

        Lain lagi pengalaman yang selalu gue inget dari kepsek SMA sekaligus figur pendidikan, Pak Arief Rachman Hakim. Gue masih inget banget kalo dulu dia memergoki siswa yang cuek membuang sampah sepanjang lorong kelas, Pak Arief akan pungut sampahnya, mendekati siswa tersebut dan berbicara lalu menunjukkan sampah yang dipegangnya sambil meminta dia membuang sampah dengan benar ke tempatnya.

        Menurut gue itu live performance terbaik yang gue inget dari seorang guru daripada ceramah di upacara bendera selama di SMA haha.

      • Billy Koesoemadinata berkata:

        seperti komennya Ayu, di Tianjin (China) pun hal serupa bisa ditemui. tong sampah susah ditemui, tapi ya emang jalanannya bersih sih.. trotoarnya pun lebar.

        ternyata emang bener, para pejalan kaki tetap membawa sampahnya dan dibuang ke tong sampah ketika ia temui. jadi, ga buang sampah sembarangan gituh…

      • niee berkata:

        Iya mbak. makin banyaknya tong sampah malah makin memperburuk penampilan dan kebersihan kota. buktinya aja di pontianak, jalan protokolnya gak ada sama sekali TPS lebih bersih jatuhnya daripada ke jalan yg ada TPSnya..

      • cK berkata:

        Minimnya tong sampah justru membuat orang menyimpan sampah terlebih dahulu dan membuangnya setelah melihat tong sampah.

        Beda kayak di Jakarta, kalau gak ada tong sampah malah buang sembarangan…

  2. JNYnita berkata:

    Harusnya dibiasain dari anak-anak, kalau ngerjain pasien anak, saya sering negur anak2 yang buang sampah sembarangan… hhhm, kayaknya ortu mereka gak mengajarkan tertib buang sampah.

  3. aqomadin berkata:

    PR nya buanyak kakaaaa….. bisakah Gubernur baru “mengusir” pedagang kecil berjualan didepan gedung bertingkat? Secara itulah sumber sampah terbesar hehe🙂

  4. ocha berkata:

    Kalo menurutku sih bukan PR dari Jokowi-Ahok, tapi PR buat warga Jakarta itu sendiri, chik. Percuma kalo diberi peraturan, bahkan ancaman hukuman, tapi orangnya super bebal. Akhirnya ya buang sampah sembarangan. Bagi-bagi tugas deh. Warganya belajar buang sampah pada tempatnya, sedangkan pemimpinnya menyediakan fasilitas yang baik yaitu tempat sampah yang memadai, dan terpisah.

    Seharusnya didikan membuang sampah pada tempatnya itu dilakukan dari rumah, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal koq ya… Dan paling mudah ya harus dibiasakan sejak dini🙂 Tugas kita-kita nih nantinya, mendidik anak-anak kita.

    • cK berkata:

      Maksudku begitu Cha, sebagai pemimpin mungkin bisa memberikan solusi yang sekiranya bisa diikuti warganya. Kalau meminta tiap orang sadar diri rasanya agak susah kecuali ada sesuatu yang “memaksa” mereka untuk bisa mentaati peraturan tersebut. Katakanlah pemasangan CCTV di sudut-sudut jalan, peraturan pembuangan sampah atau lalu lintas yang tidak pandang bulu (yang berarti kita juga harus siap dihukum kalau melanggar) dan masih banyak lagi.

      Aduh banyak ya PRnya😆

      Soal didikan gitu, entah apa orang tua jaman sekarang mengajarkan hal itu pada anak-anaknya ya?🙄

  5. dilla berkata:

    kalo lagi makan di resto burger nganuh sama suamiku, suka tebak2an kalo pas ada orang asing yang lagi makan di situ. Hayo, itu Bulenya nanti buang sampahnya di tempat seharusnya atau ditinggal doang di meja? Kalo ditinggal di meja berarti dia Bule yang dah ngIndonesia *miris*

  6. mizanul berkata:

    Bahkan saya pernah protes sama orang yang membuang sampah sembarangan di jalan, ditanggapi dengan komentar, “justru saya ngasih pekerjaan sama tukang sapu jalanan.”

    Kalau dia ngasi kerjaan ke penyapu jalanan, harusnya dia juga ngasi gaji. Jangan ngeles kalau sudah bayar pajak ya.

  7. Adiitoo berkata:

    aku lagi belajar sih kak, untuk sadar sama lingkungan. Kalau sebagian orang lagi diet kantong plastik, aku malah enggak. soalnya, plastik itu jadi tempat sampah berjalanku (di dalam tas). paling tidak, aku sendiri berusaha untuk tidak bikin kota ini jorok. jadi, kalau sewaktu-waktu banjir aku mengeluh, ya gapapa, dong. aku kan buang sampah di tas sendiri.🙂

    Bener kata Ocha dan balasan komenmu “mari saling mengingatkan”🙂

  8. Ceritaeka berkata:

    Semoga mereka punya program-program yang cerdik untuk mengajak warga Jakarta buang sampah pada tempatnya🙂
    Tapi aku sih udah mulai dari diri sendiri, Cik.
    *rapiin kulit pisang*

  9. yusdi berkata:

    SETUJUUUU!!
    ga cuma sampah2 yang bentuknya barang yaa…ludah itu juga sampah lhoo..paling sebel+benci kl orang buang ludah ditempat sembarangan, apalagi di jalan…dia kira tu jalan raya jamban kali yak….grrrrrr…..ludah tinggal telen aja kok pake dibuang..
    *maaf lagi PMS*

    • cK berkata:

      Awalnya saya juga gak buang sampah habis makan, tapi pas lihat orang India itu buang sisa makanan ke tempat sampah jadi trenyuh lihatnya. Orang asing aja bisa bersih, kenapa kita enggak?🙄

  10. Miftahgeek berkata:

    Kalo saya ngeliat Pak Jokowi dan Pak Ahok sudah memulai pekerjaan dengan baik mbak, dan yang mbak tuliskan diatas menurut saya adalah pr jangka panjang, bukan jangka pendek. Pr jangka pendeknya adalah mberesin apa yang ditinggalin sama pendahulunya.

    Saya termasuk yang ninggalin sampah diresto, karena melihat yang lain ngelakuin saya kira memang demikian peraturannya. Mudah2an kebudayaan membuang sendiri sampah makanan jadi kebudayaan masyarakat kita. Cuma kok saya kepikiran lagi barangkali sengaja di set demikian oleh pihak resto, adanya sampah dan nampan yang ditinggalkan dimeja (kalo di resto fast food) barangkali juga nandain bagi cleaning service nya kalo meja tersebut harus dibersihkan kembali untuk tamu yang baru, karena sampah kan ga harus secara fisik yang mudah dibuang, barangkali ada tumpahan air minum juga.

    • cK berkata:

      Cuma kok saya kepikiran lagi barangkali sengaja di set demikian oleh pihak resto, adanya sampah dan nampan yang ditinggalkan dimeja (kalo di resto fast food) barangkali juga nandain bagi cleaning service nya kalo meja tersebut harus dibersihkan kembali untuk tamu yang baru, karena sampah kan ga harus secara fisik yang mudah dibuang, barangkali ada tumpahan air minum juga.

      Kalau saya sih merasa gak mungkin itu settingan restonya, tapi lebih ke habit. Selama ini gak ada habit yang membuang sampah sendiri (sampai akhirnya 7 Eleven yang membuat para customer mau gak mau membuang sampahnya sendiri karena di sana gak ada cleaning service khusus). Eh IMO sih, mungkin yang lain berpendapat lain.

  11. Hadya berkata:

    Sip mari dukung Chika jadi Duta Kesadaran Masyarakat JKT… hehehe #salahfokus #ditimpukpakekursi

    Yup setuju sepertinya sekarang masyarakat kebanyakan sudah semakin hilang kesadarannya, kadang prihatin sama keadaan orang buang sampah sembarangan padahal di dekatnya ada tempat sampah…

    sepertinya harus ada sanksi sosial karena masyarakat kita lebih mementingkan status sosialnya jadi pasti lebih mengena… #semogabisadipahami😀

  12. naradawijaya berkata:

    akhirnya, kita memang harus kembali ke mental masing-masing.
    Sulit juga buat pasangan gubernur dan wagub ini kalau tidak dibarengi dengan kesadaran tiap individu.
    Tapi mungkin masih ada yg bisa dilakukan pasangan ini, misalnya : memberlakukan denda untuk orang yg ketahuan membuang sampah sembarangan. Jadi mungkin aja bisa dibentuk Polisi Lingkungan, tentunya dengan gaji yang sama besarnya dengan Polisi Lalu Lintas dan sejenisnya.

    Tapi tetap didukung dengan penyediaan fasilitas tempat sampah yang berada di lokasi yang tepat dan tidak mengganggu estetika jalanan di jakarta.

    • cK berkata:

      Pada dasarnya bisa dilakukan jika semua pihak (baik pemimpin maupun warganya) mau bekerja sama. Kabarnya sekarang Jokowi mengajak warga Jakarta untuk rajin kerja bakti. Dulu di kompleks rumah sering banget kerja bakti, sekarang udah gak pernah. Semoga dengan pimpinan Jokowi, Jakarta bisa lebih baik lagi.🙂

  13. ndop berkata:

    aaakkk saya pernah dimarahi karena buang sampah di dalam mobil. Saya malah disuruh buang sampah di jalan dengan alasan klise, “biar tukang bersih2 jalan ada kerjaan”
    😦

  14. ivanprakasa berkata:

    Setuju…. butuh kesadaran dari pribadi masing2…
    Kalo ga jakarta ya banjir terus…
    At least kalo ga nemu tong sampah disimpen dulu di tas daripada main buang sembarangan ibarat tong sampah dimana saja…

  15. emmulyono berkata:

    Kalau untuk problem sampah sendiri sih byk terjadi di negara kita kayaknya. Itu semua tergantung kesadaran dr seluruh elemen masyarakat ya. Kalau ajaran ortu ke anaknya udah bener tentu akan terbawa sampe dewasa. Kalau udah melenceng banget, ya tentu aja anaknya jd melenceng jauh. Dan itu juga bisa mempengaruhi kondisi lingkungan sekitar deh. Salut buat orang2 yg mampu memperhatikan kondisi lingkungan dan aktif bergerak ! Artikel yg menarik mbak, thanks .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s