Memilih Antara Perasaan dan Logika

“Whoever said money can’t buy happiness simply didn’t know where to go shopping.”

— Bo Derek

Saya suka shopping dan shopping dapat membuat saya merasa bahagia. Suatu hari saya kalap membeli baju dan sepatu. Keesokannya saya membeli sepatu via online. Lalu besoknya lagi saya ke suatu mall dan menemukan lagi sepatu lucu.

Perasaan saya mengatakan “SAYA INGIN SEPATU INI!” namun logika saya menolak dan mengatakan, “Itu heels sepatunya tinggi banget. Yakin bisa pakai? Daripada buang-buang duit mending gak usah deh.”

Di satu sisi perasaan saya meronta-ronta ingin sepatu tersebut. Memang sepatu tersebut terlihat menyiksa dengan ketinggian heels 11cm. Tapi saya belum punya sepatu dengan heels setinggi itu. Apalagi sepatu ini DISKON! Dari harga Rp 299.900 jadi Rp 79.900 aja gitu. Belinya di Centro Plaza Semanggi yang sering menggelar diskon. #bukaniklan

Saya pun memutar otak. Beli.. enggak.. beli.. enggak.. beli.. ? Perasaan dan logika saya pun bertengkar. Kalau beli, saya bakal punya sepatu cantik baru dengan harga murah. Tapi kalau dipakai, belum tentu enak. Khan tinggi banget.🙄

Ketika logika mencoba berargumen, ternyata perasaan saya lebih kuat, saya ingin sepatu ini! Keinginan pun dituruti dan akhirnya saya mengantongi belanjaan sepatu baru. Memang kadang perasaan itu mampu melumpuhkan logika.

Namun setelah saya mencoba menggunakan sepatu tersebut ke kantor, ternyata tidak senyaman yang saya kira. Sepatu cantik dengan heels yang supertinggi membuat kaki saya cepat lelah. Bahkan saya sempat terpeleset saking tingginya. *maaf norak, baru kali ini pakai sepatu heels 11 cm*

Dari sini logika saya mengejek, “Tuh khan gak enak. Coba gak usah terlalu menuruti perasaan. Gak akan kayak gini deh.” Tapi saya suka mengkoleksi sepatu. Bisa lihat koleksi sepatu saya di sini. *promosi*

Menurut saya perasaan dan logika adalah sesuatu yang berkaitan. Namun ketika perasaan dan logika itu bertengkar, mana yang menang. Pernah gak di posisi seperti saya? Dan bagaimana hasilnya? Mana yang lebih dituruti?

Perasaan? Atau logika?

58 thoughts on “Memilih Antara Perasaan dan Logika

  1. jensen99 berkata:

    Ketika perasaan dan logika bertengkar, yang menang adalah brapa jumlah uang di dompet. Ada uang maka ada barang; sesal kemudian tak berguna.😉

    Hayo, kapan blogwalking lagi?😈

  2. Takodok! berkata:

    saya seringnya condong ke perasaan. Tapi kalo soal sepatu sih lebih sering menang logika dan.. kantong!😆
    Nah, kalo soal beli buku baru logika kalah😐

    memang tergantung halnya apa dulu. Kalo sesuatu yang sangat kita sukai biasanya perasaan yang menang🙂

  3. christin berkata:

    Waaahh.. sering😆 dan seringnya juga tentang baju/sepatu. Dulu masih suka impulsif. Sekarang udah bisa lebih pake logika dan mikir dulu.. apa saya lagi punya duit? apa saya lagi butuh barang ini? apa barang ini cocok saya pake? apa barang ini bakal nyaman dipake lama2?

    Tapi tetep ya ada perkecualian, saya biasanya lebih nurutin perasaan kalo menyangkut barang yg sentimentil dan punya kenangan, misalnya komik candy-candy, sailor moon, atau dvd sound of music😀

    • cK berkata:

      iya nih saya kok jadi impulsive buyer gini. *facepalm*

      anywaaaaay untuk beberapa barang tertentu saya memang biasa beli tanpa mikir.:mrgreen:

  4. TM berkata:

    Oiya tips shopping ala gue niy..
    Kalo brasa udah boros bgt n ragu2 sm brgy, cm kpengen krn “wants” bukan “needs”,
    mending ga usa bli dulu. Cepat2 kluar dr toko. Nah kalo pas uda d rumah, masi kepikiran trus,
    Baru deh balik lagi. Tapi kalo pas balik lagi, brgy uda sold out, itu berarti blom berjodoh sama barangnya.
    Plus jd ngirit juga kan? Hehehe..

    • cK berkata:

      kemarin nemu boots. karena berasa pengeluaran bulan ini udah gila, akhirnya nitip sama mbaknya minta disimpenin dan diambil minggu depan.😆

  5. mawi wijna berkata:

    perasaan memang mengalahkan logika, tapi ada kalanya perasaan harus dibatasi agar tak mendominasi logika. Bukankah pada akhirnya yang bermain adalah “logika dompet”?😀

  6. och4mil4n berkata:

    aih… kalau saya selalu gini kalu lagi shopping… bila pada pandangan pertama langsung mentok pada satu barang dan duitnya cukup. langsung diangkut. itu tandanya jodooooooh…😀 sepertinya barang tersebut sudah melihat saya dan menantikan untuk saya beli *pembenaran diri*
    yah.. saya memang termasuk impulsive buyer.:mrgreen:

    haiii chikaaaa……

    • cK berkata:

      mbak ochaaaa! ih ke mana aja? kangen!

      kita sama ya! doyan belanja. dan kadang kalau itu barang udah kena love at the first sight, langsung beli deh.😆

  7. lambrtz berkata:

    Logika most of the time ada di garda depan pengambilan keputusan saya.😀
    Jarang-jarang sih emosi saya menang, cuman pada keadaan terdesak saja😛 dan kalau lagi mode prokrastinasi

    BTW kayanya belum pernah kemari saya ya? Permisi dulu kalau begitu deh🙂

  8. venus berkata:

    kok aku gak pernah pengen sepatu yg berlebihan sampe histeris kyk kalian yg di sisterhood apa itu yah? biasa aja kayaknya. aku beli sepatu atau apa pun biasanya karena emang butuh, jarang banget karena pengen. *dikeroyok* :))

  9. AngelNdutz berkata:

    biasanya sih perasaan😛 makanya kalo belanja mending ditemenin sama orang lain, biar ada pendapat, biasanya kalo pendapatku sama temenku beda jadinya nggak beli dan alhasil gak jadi buang² uang😛

  10. Sepatu Eagle berkata:

    Dear Rekan Netter…

    Salam perkenalan, dengan kerendahan hati, kami mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang telah diberikan masyarakat Indonesia kepada EAGLE sebagai salah satu Sepatu Olahraga Terbaik Indonesia , Kategory Sepatu Olahraga , pada TOP 250 Indonesia Original Brands 2010 versi majalah SWA ( Ref. No.09/XXVI/29 April – 11 Mei 2010 ) atau bisa klik link ini :

    http://swamediainc.com/award/2009top250originalbrand/index_13.html

    Lihat koleksi kami di : http://www.eagle.co.id

    Terima kasih

  11. dhanis berkata:

    mending nurutin logika deh, chik.. kalo nurutin perasaan, semua orang pasti ingin memiliki apapun yang ada di dunia ini, cuma terkadang ada satu dan lain hal yang nggak bisa diterima logika..
    contohnya sepatu tadi.. aku juga suka punya sepatu high heels gitu, kelihatannya keren dan modis, kan? cuman aku punya penyakit yang melarangku untuk beli sepatu dengan ketinggian heels lebih dari 5cm (alias, kaki lecet!), so, aku musti tahan tuh keinginan punya sepatu model artis gitu..😦
    Nice Posting, Chika!! :p

  12. kiky berkata:

    woman! saya baru beli sepatu dengan hak 11 cm juga…*terus mamer di WP* karena gendut “latihan” dulu dengan sepatu teman dengan model yang mirip. udah “jago” beli deh. selang sebulan kemudian dengan napsunya beli 2 “sepatu cantik” dengan hak aduhai itu…*kebetulan belinya pas lagi travelling”
    begitu sampai Jakarta, di airport saya kepleset hebat…memar tulang belakang dan…errr…sampe sekarang (hampir 3 minggu) belum kepakai lagi deh itu sepatu cantik namun menyiksa itu…:P
    *mampir ya *

  13. dEEt berkata:

    kebetulan bgt!
    kmrn saya baru aja beli wedges pertama, biasa-a beli flat shoes..
    perasaan yg menang dari logika waktu itu! hehe
    mudah²an gak bikin kaki pegel krn hak setebal 5 cm itu..:mrgreen:

  14. Amy berkata:

    Hay chIka!
    Mang logika_lah yg paling bener,
    tapi pada saat perasaan memprotes,
    maka logika yg sebetulnya bener,
    akan menjadi salah total!!
    Apa lagi soal cinta!

    Aku kagum ma kamu,
    aku selalu baca tulisan2 kamu!

  15. maran.tina berkata:

    aku malah bikin blog khusus hatidanlogika
    karena mereka memang seringnya bikin hidup lebih hidup.. jadi bergumul terus antara keduanya😀

    kalo ga mau sakit hati ya pilih logika aja..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s