Ketika Materi Menggerogoti Idealisme

Saya punya seorang teman yang berjiwa jurnalis. Ia sangat menyukai dunia menulis dan bekerja pada suatu media cetak sebagai penulis. Ia telah berkeluarga dan memiliki dua anak. Ia menjalani pekerjaannya dengan sukacita.

Namun dengan beratnya tinggal di Ibukota, penghasilan yang didapatnya membuat ia belum memiliki banyak tabungan. Setiap bulan gajinya habis untuk keperluan sehari-hari, bayar kontrakan, beli susu untuk anaknya, bayar tagihan listrik dan masih banyak lagi.

Ia pun kerap meminta tolong kepada teman-teman lainnya untuk mencarikan kerjaan yang sama, dengan gaji yang lebih besar. Tetapi sampai sekarang ia masih tetap terperangkap di tempat yang lama, alias belum ada pekerjaan yang sesuai dengan gaji yang ia inginkan.

Maka ia pun memutuskan, apabila ada pekerjaan, bidang apapun, yang mampu menghasilkan pendapatan lebih besar, maka ia akan meninggalkan kecintaannya pada dunia menulis dan memilih pekerjaan tersebut. Padahal ia pernah mengatakan pada saya, bahwa ia mempunyai idealisme tersendiri dan hanya mau bekerja di bidang yang ia sukai.

Saya pun menyimpulkan, sepertinya untuk kondisi ini, materi mampu menggeser idealisme. Tidak hanya teman saya, namun masih banyak teman-teman lainnya yang harus rela meninggalkan idealismenya demi sesuap nasi. Banyak teman saya yang lulusan jurusan tertentu, akhirnya bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan keinginannya. Banyak yang akhirnya mematikan idealisme dan mengubur cita-cita, demi mendapatkan pekerjaan.

Saya sendiri termasuk yang masih memegang idealisme. Saya hanya mau kerja di bidang yang saya minati dan berhubungan dengan jurusan yang saya ambil. Saya bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan. Bahkan kedua pekerjaan saya merupakan pekerjaan yang saya cintai. Menulis dan musik adalah hobby saya. Namun sampai kapan ini akan terus berlangsung. Apakah idealisme ini akan tergeser seiring pergerakan perekonomian Indonesia yang luar biasa ini?

Semoga saja tidak.😐

.

Kembali ke menu awal… >>>

89 thoughts on “Ketika Materi Menggerogoti Idealisme

  1. det berkata:

    ah kalo masalah kawin itu gampang aja. yang penting: NIKAH DULU:mrgreen:

    memang chik, ketika idealisme kita tidak bisa menjadi sumber penghidupan, maka sangat sering idealisme itu digadaikan dan ambil sumber lain yang lebih menjanjikan..

    ada pay-off yang harus dipilih😉

    contoh nyata adalah mahasiswa tukang demo. ketika sudah lulus dia akan masuk begitu saja ke partai politik dan bertingkah busuk seperti tokoh yang dulu-dulu didemonya.

    idealismenya sudah terbeli!

  2. aGoonG berkata:

    Duniawi memang kejam …
    Idealisme sedikit demi sedikit memang harus dikesampingkan. Kita ini hidup unutk apa to ? Hidup untuk makan atau makan untuk hidup.
    Terus, kapan nikah ? *dipentung*

  3. Koko berkata:

    bukan materi yang menggerogoti idealisme, tapi pernikahan😀

    gue jamin kalau dia stay single dia bisa mengikuti idealismenya :p

    materi tidak akan pernah menggerogoti idealisme kalau kita tidak membiarkannya…

    lagian idealisme bawa pengorbanan juga, kecuali idealisme eloe adalah…

    Materialisme!

  4. Chic berkata:

    yup! saya sedikit diantara yang beruntung masih bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya dan tentu saja saya minati. Karena ga sedikit teman-teman saya yang akhir bekerja jauh dari apa yang dulu mereka pelajari di kampus, hanya karena alasan minimnya lapangan kerja (jadi dapet kerja apa aja sabet!) dan ya itu tadi bayaran yang sesuai…

  5. Eru berkata:

    Hmm, soalnya kalo dibelakang uda nebeng istri sama anak,
    mau ga mau idealisme mungkin mesti digugurkan untuk menghidupi mereka

    * yesh masi single *

  6. Winnu Ayi berkata:

    materi dan idealisme memang tidak selalu sejalan…
    ada yang beruntung dan ada yang kurang beruntung…
    ini mah menurut saya ujian buat pribadi masing-masing untuk menyikapinya…
    apakah kita sudah bersyukur?

    salamjoblesslhawongkerjaajabelumsibukngeliatinblogorang

  7. fR3dDy berkata:

    Emang realitanya seperti itu sich
    Lihat aja pejabat-pejabat di pemerintahan, gw yakin awalnya mereka memiliki idealisme yang kuat “demi kepentingan rakyat”, tapi karena keinginan yang ga pernah habisnya yang hanya bisa diselesaikan dengan materi akhirnya ya .. idealisme dibuang

  8. yogie berkata:

    di jaman skrg uang adalah segalanya.. seakan-akan uang sama pentingnya dengan oksigen… orang rela berbuat apapun demi selembar uang… jadi fenomena seperti itu udah ga aneh deh… wong skrg itu jaman edan..

  9. hedi berkata:

    aku pernah nyortir lamaran buat jurnalis dasar (reporter), gaji yg dia minta 4 juta!!! gile aja, mana ada. umumnya, gaji segitu buat kelas redaktur hehehe

  10. dnial berkata:

    idealisme orang beda-beda. Ada yang idealismenya kerja harus senang, hati gembira, ada yang kerja harus berdampak, ada yang kerja jangan ngusik nurani.

    Ada yang punya idealisme sederhana, anak-istri tercukupi di rumah.

  11. AngelNdutz berkata:

    Ndutz dari masuk SMK ajah uda gak nyimpang dari apa yang Ndutz suka…nurutin mau orang tua, tapi Ndutz yakin nanti suatu saat cita-cita Ndutz bakalan terwujud🙂
    begh…hebat nih 2 pekerjaan…gajinya dobel dunk??😛

  12. sandymc berkata:

    Yep. Makanya gak semua orang kaya itu bahagia dan gak semua orang miskin itu sedih. Tapi faktanya kebanyakan saat ini adalah Money > Everything. Karena emang yang diperlukan untuk bertahan hidup adalah uang, bukan kebahagiaan di pekerjaan. Kalo soal nanti mati gak bawa materi itu urusan lain… kan prinsip hidup yang baik adalah senang2 di dunia mati masuk surga hoho.., dan jaman kejem bgini, kalo mau banyak seneng, mesti banyak duit juga🙂

    Temen IT gua banyak yang berlomba – lomba cari kerjaan di Bank Asing ato Oil&Gas Company, karena perusahaan2 itu nawarin gajinya lebih gede. Kalo ditanya ngincer jabatan apa, mereka jawab ‘tserah deh, yang penting keterima di perusahaan X’. Percuma dong kuliah 4 tahun haha

    Kebetulan gua kerja di bidang yang gua suka dan pendapatannya juga kompetitif. ^ ^v.

  13. -=«GoenRock®»=- berkata:

    Chika suka menulis, suka musik & punya kerjaan yang pas sesuai dua talenta yang dimiliki. Saya suka corat-coret, suka komputer grafis & musik, tapi saya belum nemu kerjaan dibidang musik. Chika lebih beruntung daripada sayah domz:mrgreen:

  14. TamaGO berkata:

    idealisme saya, kerja itu harus bisa dinikmati. jadi biasanya biar sesuai bidang minat klo nggak enjoy biasanya gak bertahan lama. Untung aja sekarang tempat kerja cukup menyenangkan dan masih bisa nabung.

  15. goldfriend berkata:

    kalau saya kerja nggak sesuai dengan latar belakang pendidikan, gajinya kecil, di tempat terpencil dan terasing, teman tidak ada, tunjangan minim, TAPI saya bahagia.

    Itu idealisme nggak, Chik ?😉

  16. aCist berkata:

    Semoga saja tidak mbak…

    saya juga senang dengan menulis dan musik
    oh ia mbak chika suka mainin musik ap?
    ato jangan2 mbak chika adalah penyanyinya..
    hehe…

    tenang aj, selama kita masih dekat kepada yang maha kuasa
    kita pasti aman dan selamat

  17. harriansyah berkata:

    materi mampu menggeser idealisme

    keadaan yg dapat mengubah orang

    Saya hanya mau kerja di bidang yang saya minati dan berhubungan dengan jurusan yang saya ambil.

    ada lagi yg berpendapat, menekuni pekerjaan sesuai dgn minat, meski sekolahnya berbeda😀

    mantab tulisannya chik !!

  18. Andri hardiansyah berkata:

    MMh..punten komentar sakedik…..kalau saya lebih cenderung mengusulkan (boleh khan ^_^ ) idealnya seseorang bukan menjadi seorang yang idealis, tapi menjadi orang yang kompromistis, tapi tentu saja tidak melanggar norma yang ada……Insya Alloh rezeki berdatangan dan halal….

  19. erander berkata:

    Itu namanya godaan ato cobaan cK ..

    Btw .. teman mu itu ce or co cK? .. biasanya sih, kalo masih ‘bujangan’ .. idealisme itu masih kental. Tapi kalo sudah punya ‘buntut’ sepertinya harus merelakan idealisme demi menjaga kelangsungan ‘keturunan’ cK. Kalo ga gitu .. berabe🙂

    *jadi mikir, apakah korupsi juga gara² ini ya?*

  20. emyou berkata:

    kesindir banget nih huahhahaha….

    meski gak nyambung dengan background, tapi kerjaan memfasilitasi passion gw buat jalan-jalan dan blogging huehehehe…. tak apalah…

  21. wong edan berkata:

    yach…kadang kenyataan hidup bisa mempengaruhi sikap idealisme seseorang……..
    jadi inget film Gie
    sejak mahasiswa lantang menyuarakan aspirasi rakyat namun setelahnya malah memilih untuk berkuasa…😕

  22. Zoneich berkata:

    Menjadi idealis sama aja dengan memikul beban……
    Kebanyakan idealis bisa berubah karena hal yg mengancam (kalau masih idealis ga dapet duit trus bisa2 kelaparan misalnya) atau ketika berhubungan dengan hal menyangkut orang lain (keluarga misalnya)..

    Dia sudah berkeluarga, berbeda cerita kalo temennya mbak cK maseh njomblo. Sewaktu masih sendiri, idealisme mungkin masih bertahan. Meski kadang standar hidupnya diturunkan sebagai korbanya. Perut yg penting keisi, ga masalah biapun tinggalnya sampe harus *KLEWERAN* di jalan2…

    Tapi ya itu tadi, karena dah menyangkut keluarga pasti pikiranya berubah jadi soal “Kelayakan Hidup” untuk keluarganya….

    Idealisme yg berubah ga bisa dijustifikasi sebagai sebuah kesalahan. Ia berubah menurut fase kehidupan yg dialami seseorang (cuman pendapat saya lho)… ya gimana lagi,, mungkin fase berkeluarganya temen mbak memang mebuatnya “harus” berubah….

    Btw,, maav ya kalo kepanjangan… 🙂

  23. Catshade berkata:

    Yah, seagung-agungnya sebuah idealisme, tidak adil juga rasanya kalau kita memaksakan idealisme itu ke orang lain, apalagi kalau sampai harus mengorbankan mereka… idealisme itu, to some extent, adalah egois.😕

  24. Fortynine berkata:

    Tumben nulis serius Non?

    Namun sampai kapan ini akan terus berlangsung. Apakah idealisme ini akan tergeser seiring pergerakan perekonomian Indonesia yang luar biasa ini?

    Menurut pendapat sok tahu saya, yang bisa menggeser idelisme itu adalah raungan anak kandung yang lapar…

    Seperti apa yang pernah saya baca kalau tidak salah dari pengakuan seorang musisi: Tidak mungkin bapaknya tenteng gitar dan mempertahankan idealismenya dalam bermusik sementara anaknya kelaparan….

    Termasuk juga teman saya yang akhirnya bekerja sangat jauh dari bidang pendidikannya ketika telah memiliki seorang putera. Dia merelakan dirinya untuk jadi sesuatu yang saya yakin tidak akan pernah dipikirkannya sebelumnya, karena kalau tidak bekerja, mau kasih makan apa puteranya.

  25. tere berkata:

    hahahaha.. iya emang banyak ck yg spt itu.. tp ad jg loh yg sukses wlpn lawan arah. Gak semuanya berakhir dengan buruk. Asal mau berusaha, pasti ad jalannya. *gw salah satunya yg lawan arah*

  26. saraswatiputri berkata:

    makanya, saya agak deg2an…
    saya tadinya orang yang sangat idealis.. tapi, makin kesini, makin mikir… will i stay on my idealism? jadi, makin kesini saya makin ga idealis nih, jadi sering ngasi toleransi2 gitu…
    *apeu atuh, si saya teh ikut2an ajaaaa*

  27. Pitra berkata:

    By experience aja komentarnya. Idealis seseorang selalu akan bergeser. Pas sblm kuliah ingin jadi arsitek. Pas lagi kuliah, nggak mau lagi gw jadi arsitek, dan bingung. Lulus pas Krismon melanda, yg jelas2 gak ada kerjaan berhubungan dgn dunia kuliah gw. Justru pas saat itulah idealisme baru gw muncul. Ingin jadi seorang komikus. Bbrp tahun idealisme itu lalu bergeser, seiring dgn semakin banyaknya pengalaman yg gw terima dan seiring dgn tidak memadainya duit yg didapat.

    Akhirnya apa yg gw kerjakan skrg, di dunia multimedia/online dan sekitarnya sdh sesuai banget dgn idealisme gw saat ini. Menghasilkan pula.😀 Nilainya nggak kira-kira pula :)) Tapi sampai kapan? Gw jg gak tau. Idealisme itu kayak cita2. Selalu ingin lebih dari yg sudah didapat. Tapi buat gw skrg, idealisme gak melulu terkait dgn materi, krn Alhamdulillah, gw sdh lumayan berkecukupan utk ini.

  28. ndop berkata:

    mbak chik, kapan-kapan aku beri link hasil rekaman sederhanaku menyanyi lagu Mariah Carey ya.. silakan dicek, satu kali take saja loo… ndak diulang-ulang, aku nyanyi we belong together, bye bye, I stay in love, Touch my body, don’t forget about us… hohoho… lumayan buat tombo ngantuk!

    hahahahahhahahaa…

  29. Raffaell berkata:

    Owww, pastinya gitu Chik….
    Kalo di Jakarta situasinya seperti itu, tapi kalo di luar ngga, masalahnya gimana kita menggeser itu…. ada sih, kalo mau bener bener kita tu harus bener bener hardcore dengan bidang kita, dpt sertifikasi, dll, baru idup tuh

  30. LiL Lia berkata:

    Yg penting halal:mrgreen: hmm gimana kalo pekerjaan yg bukan bidang kita itu dijadikan sumber pencaharian dulu…kalo udah mapan, baru deh kejar profesi impian.

    tapi keburu tua gak ya? *binun*

    Eh, ariel ganteng tauuukkk…

  31. nshu _86 berkata:

    Eeeemmmm,…… idialisme memang penting tetapi di saat idialisme bebenturan dengan dengan kenyataan kehidupan maka anak manusia tersebut akan mengesampingkan idialismenya tersebut sementara atau selamanya, tetapi percayala di dalam hati yang terkecilnya sebenarnya anak manusia tersbut masih punya keinginan untuk melawannya

  32. yonna berkata:

    halo Chika udh lama gak kesini nih🙂

    kalo baca kasus temennya Chika, kurasa dia berusaha bersikap realistis. tanpa menanggalkan idealisme tentunya. ketika seseorang dihadapkan pada kenyataan dan idealismenya tidak paralel dengan kenyataan tsb, maka idealismenya itu harus dipertanyakan….idealisme yang hanya mengedepankan teori dan kemustahilan bukanlah idealisme yang benar. idealisme yang benar adalah idealisme yang kokoh pada akarnya namun bersahabat dengan kenyataan.

    lagian….mengenai pekerjaannya itu. saya melihatnya justru dia ingin fokus dan memperdalam keahliannya di bidang jurnalis namun dia menginginkan gaji yang lebih besar karena kebutuhannya juga semakin banyak. wajar banget?!

    btw…eke serius be-ge-te deh:mrgreen:

  33. antown berkata:

    chika, tulisanmu apik. enak dibaca….
    semoga kita tetap teguh mempertahankan idealisme itu, dan tentunya selama keberuntungan itu masih berpihak pada kita.

  34. aRuL berkata:

    hmm…. ada temanku kebalikannya malah, gara2 kerjanya ngak sesuai idealisme malah keluar..
    masing2 orang punya kadar mempertahankan idealisme berbeda2..
    parameternya pun berbeda…
    yah itu kali dari niat😀

  35. niken makki berkata:

    intinya rejeki mah ga tau dimana, kita yang harus pinter2 cari rejeki,jangan terpentok sama idealisme aja,,karena hidup emang misteri berikut paket2 di dalemnya😀..

  36. _rabindrasahara berkata:

    memang sgala sesuatu yg brhubungan dgn materi itu slalu membntuk dimensi yg tak terpetakan. dan itu manusiawi. yg smpet pny idealisme aja bsa banting setir. apalg yg pny ajian ‘let it flow’ yak? *kayak saya*🙂

  37. hanny berkata:

    percaya bahwa ck masih berjiwa idealis… saya masih ingat bagaimana ck menolak tawaran pekerjaan yang BAGUS karena ck masih ingin punya waktu luang untuk mengajar piano😀

  38. Ardi berkata:

    Klo cuma idealis jgn udah ngerasa cukup, peningkatan kualitas harus terus, jd tetep profesional abis. Biar ga mood tetep jalan krn yg lain bisa jd ga berhenti ningkatin kualitas. Nanti klo kualitas dah mumpuni, duit datang sendiri euy, bukan dicari, malah nyari kita (yg punya duit maksudnya). Lagipula untuk pindah pekerjaan yg ga terlalu disukai, belajar lg dr awal, dan karena ga terlalu suka, cepet ngerasa berat sewaktu mempelajari bidang baru-nya, perkembangannya malah melambat. Jadi yg salah bukan pekerjaannya, tp kualitasnya dan skill marketing (menjual diri :p) yg masih kurang..

  39. ezra berkata:

    beruntung sekali kamu. dapat melakukan sesuatu yang kamu sukai.
    yang “menggerakkanmu”. tapi tidak semua orang seberuntung kamu kan? dan akhirnya berkompromi. saya selalu berpikir bahwa jangan jadikan pekerjaan
    –yang sesuai dengan idealisme atau tidak– membunuh sebagian diri kita waktu demi waktu. kalau bekerja hanya demi mendapat nafkah, lebih baik jangan bkerja. karena nanti pkerjaan tsb akan berakhir jadi beban kewajiban yang harus dipenuhi. yang coba saya katakan adalah bahkan seorang penulis pun –namun yang bekerja hanya demi mendapat apresiasi atas pkerjaannya– akan selalu resah bila ia tidak punya bahan tulisan di kepalanya yang dapat ia jual

  40. bernie berkata:

    Perlu ada batasan apa yang disebut idealisme, dengan kondisi saat ini.. “uang” adalah idealisme baru, apa pun pekerjaan nya minum nya teh botol s*s*o.. ups.. yang penting banyak uang, karena uang bisa membeli hampir segalanya kecuali hati nurani…

    Mungkin… kalo kita hidup ditengah masyarakat yang tidak butuh dan tidak mengaggap uang adalah segalanya.. akan lain lagi idealisme nya..

    Cheers

  41. deni oktora berkata:

    memilih perkerjaan untuk bekerja di industri kreatif ( penulis, pemusik, pelukis, penyair ) atau di bidang olahraga (sepak bola, tinju atau bulu tangkis ) belum bisa di kategorikan sebagai pekerjaan yang settle di mata masyarakat kita. karena cenderung habis dimakan waktu oleh trend sesaat.

    tidak jarang bila sang orang tua walaupun tahu anaknya berbakat di bidang musik atau di bidang tulis menulis, selalu berusaha keras untuk menasehati anaknya agar hal itu dianggap sebagai hobi saja, seharusnya kamu belajar untuk tembus CPNS dan berkerja di instansi pemerintah yang notabene pasti akan selalu mendapat zona aman secara finansial.

    hal ini berbeda dengan amerika serikat yang memiliki harapan besar untuk berkerja di industri kreatif dan industri olah raga untuk mendapatkan uang banyak ( berkecupan bila terjun di kedua bidang ini)

    tony hawk?? bisa tajir abis hanya dengan bermodalkan profesinya sebagai skate boarder

    heather armstrong (dooce.com) bisa mencukupi kehidupan satu keluarganya hanya dengan ngeblog dan menulis cerita diarynya di dooce.com

    http://www.denioktora.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s