Kenapa Kerja Jauh-Jauh?

Akhir-akhir ini terlihat banyaknya masyarakat Indonesia yang berbondong-bondong untuk bekerja di luar negeri, mulai dari TKI, TKW, dan masih banyak lagi. Banyak juga yang kuliah ke luar negeri dan memutuskan untuk kerja di luar.

Sementara yang mendapatkan beasiswa, mau tak mau harus kembali ke Tanah Air untuk ‘membalas budi’ kepada negara atas pembayaran mereka kuliah di luar negeri. Sebenarnya masuk akal juga beasiswa tersebut diberikan agar orang-orang pintar di Indonesia semakin banyak dan ketika kembali, dapat membantu negeri ini. Tapi entah kenapa, sekarang banyak yang berlomba-lomba untuk kerja di luar negeri.

Saya ingat percakapan dengan teman saya sewaktu ingin kuliah ke Belgia. Ketika sedang membahas kenapa dia pilih kuliah ke luar negeri, tiba-tiba teman saya yang satu lagi menyeletuk “Begitu lulus, kamu balik ke Indonesia, ya! Bantu untuk membenahi negeri ini. Jangan malah menetap di luar. Di luar sudah banyak bibit-bibit unggul.”

Awalnya saya pikir, “Kuliah di luar, kerjanya di luar aja. Khan pendapatannya bisa lebih banyak.”

Tapi ketika saya mencoba memikirkan kembali, kadang di Indonesia sendiri para pekerjanya kurang dihargai. Ada lulusan S2 dalam negeri yang akhirnya disetarakan dengan lulusan S1 dari luar negeri. Padahal dari segi lama pendidikan, yang telah bertitel S2 mempunya pengalaman ‘lebih’. Tapi mungkin ini juga tergantung performa kerja dan kapasitas otak.

Namun hal inilah yang membuat anak bangsa lulusan luar maupun dalam negeri tersebut akhirnya mencoba mencari peruntungan di luar negeri karena merasa disana bisa mendapatkan pendapatan lebih.

Bahkan ketika membahas masalah ini dengan pakar telematematika, beliau mengatakan “Industri di Indonesia lebih memilih orang asing daripada anak bangsa”. Bisa dilihat maraknya pekerja asing yang bekerja disini serta lebih memilih para lulusan luar negeri. Dengan embel-embel “lulusan luar negeri”, hal ini menjadi nilai tambah bagi perusahan, padahal lulusan dalam negeri pun tidak kalah hebatnya.

Sehingga ketika teman saya memutuskan untuk bekerja di luar negeri, apa yang bisa kita lakukan? Hanya bisa melepas salah satu bibit unggul untuk bekerja nun jauh disana.

134 thoughts on “Kenapa Kerja Jauh-Jauh?

  1. chrisibiastika berkata:

    Jadi saya ndak salah to kalo kerja disini dan ndak pulang dulu ke Indonesia? Beasiswanya pas kuliah sih dari Indonesia. Eh tapi dua kali telat tiga bulan loh:mrgreen: Hehehe. Temen saya ada yang menghakimi keputusan saya buat kerja di luar negeri dengan alasan nasionalisme. Saya cuma bisa bilang, apa yang bekerja di BUMN itu bener2 hasilnya dipake buwat rakyat? Jadi wakil rakyat aja malah korupsi gitu kok. Dan saya nambahin lagi, lha kamu juga sekarang sedang kerja buat perusahaan Amerika gitu lho, biarpun tempatnya di Indonesia. Dan dia diem.

    Okelah. Tolong kalo gak mau kehilangan ide2 cemerlang karya anak negeri, hargai mereka. Jangan anggap remeh karena lulusan universitas2 di Indonesia kualitasnya gak kalah dengan asal para ekspatriat. Kenapa justru mendiskriminasi bangsanya sendiri dan selalu menganggap orang asing itu lebih pinter?

    Apa ini salah satu bentuk penjajahan oleh bangsa sendiri?

    *tujuhbelasan mode : on*

    ¤ cK ¤
    alasan seperti itulah yang dikeluarkan teman saya ketika memutuskan untuk bekerja di luar.🙄

  2. Mr. Fortynine berkata:

    Ooooo……

    Saya mengerti sekarang…

    Nah, kalau saya yang dapat beasiswa ke luar negeri. Bukan hanya saya akan menetap di luar negeri sampai mampus. Saya bahkan akan mencabut status kewarganegaraan Indonesia saya.

    Selain itu, kalau memang orang asing di Indonesia lebih dihargai, berarti orang Indonesia yang bekerja di luar negeri juga tentunya adalah orang tenaga kerja asing dunk? jadi sama aja kan?

    Bedanya… bedanya apa ya? Mungkin bedanya adalah masalah gaji alias penghasilan. Kalau bekerja di luar negeri bisa dapat penghasilan yang lebih baik, bener ga si?

    ¤ cK ¤
    bukannya biasanya kalau dapat beasiswa berarti terikat dengan perusahaan/NGO/lembaga yang memberikan beasiswa tersebut? setahu saya setelah kembali ke Indonesia, biasanya harus bekerja di tempat yang ditentukan. cmiiw. soal penghasilan, saya kurang tahu. setahu saya seimbang dengan biaya hidup disana. tapi banyak yang bilang di luar itu lebih negeri itu pendapatannya besar.

  3. Hedi berkata:

    jadi, kapan mau berangkat ke luar negeri? Timor Timur atau Brunei?😀

    ¤ cK ¤
    ahahahahaa…belom ada niat kok.😀

  4. draguscn berkata:

    .. Ada lulusan S2 dalam negeri yang akhirnya disetarakan dengan lulusan S1 dari luar negeri. ..

    Kayaknya sih bukan karena ngga dihargai, tapi karena filosofi menerima tenaga kerjanya sendiri bukan berdasarkan kualitas .. tapi semangat untuk menghapuskan pengangguran .. jadilah ada Sarjana Hukum kerja di Dinas Kesehatan, Sarjana Teknik Pangan di Dinas Pengairan. Pokoknya asal banyak terima pegawai bisa dianggap keberhasilan pemerintah .. disana terkurasnya anggaran pemerintah ..
    alhasil S2 ngga nyata-nyata amat berbeda dengan S1 dalam hal penggajian. Apalagi kadang-kadang S2-nya juga salah alamat nempatinnya …

    ¤ cK ¤
    hmm begitu ya??😕 tapi memang sekarang ini banyak yang lulusan S1 yang bekerja jauh berbeda dari jurusan yang diambilnya ketika kuliah. itupun kepentok pada kenyataan dimana harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

  5. nindityo berkata:

    kamu mo bilang kalo masih kerja di indo berarti bukan bibit unggul .. hmm.. i see

    ¤ cK ¤
    eeeh, bukan gitu, tapi justru saya menyayangkan bibit-bibit unggul yang tidak dihargai disini. saya punya teman pintar, ipk bagus, tapi sulit sekali mendapat pekerjaan yang cocok dan pendapatan yang diinginkan.

  6. ova berkata:

    Kasi disclaimer dong : Artikel Serius..

    Kayak bukan cK yg nulis?!
    Secara sarkasm, gw mikir : “Ni kupipes dari manah, Chik?!?!”

    Muahahaha…
    Why so serious?

    ¤ cK ¤
    ini kupipes dari otak saya.:mrgreen:

    why so serious? pasti efek nonton betmen nih. 8)

  7. dnial berkata:

    Hm…
    Emang motivasi utama kerja itu uang?

    *sedang mempertimbangkan kuliah di Eropa*

    ¤ cK ¤
    tampaknya banyak yang bermotivasi seperti itu.🙄 orang kerja untuk cari duit.:mrgreen: dan gak semua orang bisa menikmati pekerjaan mereka, karena balik lagi, bekerja untuk hidup.

  8. tukangkopi berkata:

    orang luar kerja di Indo, orang Indo kerja di luar. ndak pa pa lah. dunia udah mengglobal kok. tinggal kita-nya berani bersaing ato ndak?

    ¤ cK ¤
    dan saya yakin kamu itu termasuk yang berani. 8)

  9. Eru berkata:

    Kita hidup di negara dengan mental prestise yang tinggi *sigh*
    * Lulusan manapun sama aja la, yang penting orangnya :D*

    But kalo soal kerja di luar, ya.. itu menjadi sebuah pengalaman sendiri kali ya? I mean kerja jauh-jauh, berinteraksi dengan orang-orang berbangsa berbeda dan belajar bahasanya merupakan pengalaman yang bagus bukan😉
    * asal jangan lupa aja ama rumah sendiri *

    ¤ cK ¤
    hehehe…tapi banyak yang sudah mencicipi luar negeri, jadi lupa balik. *teringat beberapa teman dan sodara* tapi itu pilihan masing-masing pribadi. kerja di luar negeri juga merupakan tantangan..😀

  10. hanny berkata:

    mungkin karena orang-orang merasa kurang dihargai di sini. lulusan terbaik SMU saja tidak ditawari ‘paket’ yang bagus oleh pemerintah Indonesia, sehingga yang mengincar adalah Singapura, menawarkan paket beasiswa ini dan itu. kalau sudah begini, mereka sebagai bibit-bibit unggul akan merasa bahwa mereka lebih diperhatikan oleh pemerintah negara lain daripada oleh pemerintah negara sendiri…

    ¤ cK ¤
    iya. justru negara lain yang mencoba merebut bibit-bibit unggul indonesia..🙄

  11. warmorning berkata:

    wih ente mau jadi TKW chik ? slamat ya… toh di luar negri otak dan tenaga lebih dihargai dibanding disini, dibayar gak pake rupiah lagi.. saya dukung deh keinginanmu jadi te ka we:mrgreen:

    ¤ cK ¤
    walah…enggak kok. saya belum berminat kerja di luar..😛

  12. Sawali Tuhusetya berkata:

    bisa juga ini pengaruh globalisasi yang telah membikin masyarakat di berbagai belahan dunia seperti tinggal dalam satu atap, mbak. dalam kondisi seperti itu, mereka yang ndak siap pasti akan tergilas. bisa jadi ini juga “warning” bagi kita utk *halah* siap bersaing di tengah situasi global itu. kalau tidak, bisa jadi kita akan menjadi tamu di negeri sendiri. bagi saya, di mana pun kita cari ilmu, nggak akan sia2 kok.

    ¤ cK ¤
    setuju om. cuma saya menyayangkan aja negri kita ini tidak maksimal memanfaatkan sumber daya manusia. orang-orang kita banyak yang berpotensi lho, namun tenaga asing lebih dilirik…

  13. det berkata:

    ya begitulah kalo segala sesuatu hanya dilihat dari sisi materi :p

    ¤ cK ¤
    entah kenapa untuk beberapa orang materi itu penting. tanpa materi gak bisa hidup…🙄

    *ini hukum alam*

  14. BLOGIE berkata:

    Kenapa musti kerja jauh-jauh, kalo bisa kerja deket-deket?

    Tapi kalo emang stok loker lokal udah nggak ada lagi, ya apa boleh buat cari kerjaan di negeri orang…

    hmmm.. cK mo kerja di negara mana nih?

    jangan2 mo kerja bareng si daniel radcliff…😎

    *siul-siul*😆

    ¤ cK ¤
    waaaaahhh saya mau ke inggriiiisss…😈

  15. Dhimas berkata:

    Tukang Airbrush di Jakarta menghargai sekali ngebrush Helm motor balap dengan harga 2juta.. (termasuk murah bagi para pembalap luar negeri).. Dan bisnis brush2an nya laris oleh para pembalap luar negeri..

    Jadi di Indonesia emang murah.. Beli makan juga murah.. Saya beli nasi padang pakai rendang Rp. 7500.. Coba beli nasi rendang di Paris, harganya nyampek berapa tuh..

    Jadi adil lah.. Saya lebih memilih kerja di negeri sendiri.. Dekat dengan keluarga.. Di sana juga belum tentu ada nasi padang pakai rendang favorit saya.. Xixi..

    ¤ cK ¤
    pilihan yang bagus. saya juga ingin kerja disini. tapi entah gimana ke depannya nanti. still mystery…😀

  16. itikkecil berkata:

    brain drain….. manusiawi sih…. apalagi kalau sudah masalah penghargaan, bukan cuma soal materi ya. kadang-kadang, bisa jadi mereka yang pergi keluar, memilih untuk pergi karena frustrasi dengan birokrasi yang ada. bisa jadi lo ya…

    ¤ cK ¤
    iya. banyak kok yang seperti itu…😦

  17. ika berkata:

    iya chik, pabrik2 dikawasan sini aja lebih suka memberikan jabatan supervisor dan manager kepada yang asing2 kayak yang dari hong kong atau korea misalnya, jerman juga. yang s1 lulusan lokal aja ada yang kerja di bagian produksi .. ;p

    gak heran sih kalo banyak yang pengen kerja di luar negeri.. ;p

  18. Ina berkata:

    ya namanya aja rejeki….
    kalau memang dapat rejekinya di negara lain. Ya ikutin nasib aja.
    lagian masih banyak pengangguran kok di negara ini. bagi bagi rejeki aja.😀

  19. venus berkata:

    Ada lulusan S2 dalam negeri yang akhirnya disetarakan dengan lulusan S1 dari luar negeri. Padahal dari segi lama pendidikan, yang telah bertitel S2 mempunya pengalaman ‘lebih’.

    iya. LEBIH LAMA BERSTATUS MAHASISWA :d

  20. dobelden berkata:

    karena hujan emas di negeri orang lebih menguntungkan dari pada hujan batu di negeri sendiri..

    jangan harap di negeri sendiri ada hujan emas😀

    dan satu lagi, klo kerja jauh ada kebanggan karena ikutan tradisi MUDIK Lebaran, Mudik Liburan dan Mudik Natalan

    Asyik khan?

  21. sigit berkata:

    yang mana yang menguntungkan
    itu yang diambil, bukan hanya materi saja tapi dilihat juga peran psikis
    keluarga juga penting, jadi siap2 saja yak

  22. almuchibbin berkata:

    pilihan ada pada masing2 orang
    kadang juga saya kepikiran kesitu biar dapat duit banyak
    tapi kalo duit banyak hidup ga damai sama aja
    mendingan dikampung halaman biarpun dikit, tapi cukuplah untuk ganjal perut
    semisal semua bibit unggul pada pergi, bakal nangis bangsa ini. karena cuman niggalin bibit ga keurus (kaya saya). makin rusak dong

  23. restlessangel berkata:

    *ehm, ehm, gw mo serius, chik*

    begindrang nih, dr pengalaman gw ma temen2 gw di bidang seleksi dan rekrutmen. temen2 gw yg berkecimpung di bidang ini, sering bgt komplain, knp ya, sulit sekali cari tenaga kerja/kandidat yg kompeten spt yg mereka (perusahaan) inginkan. pdhl lowongan ada banyak. kayak pas awal thn 2007, kita nyari koki utk kafe. astaga, pasng di berbagai SMK dan akademi perhotelan, yaolo….kagak ada yg apply !!!
    why ????????
    juga pas temen ada yg nyari utk posisi engineer, dan pasang di fak teknik di bbrp universitas terkemuka di jogja. eh astaga, yg apply kenapa juga cuman kurang dr 10 orang ???
    jd, knp bisa begini ???

    kuncinya : kompetensi.
    kt temen gw yg ngutak ngatik HRD, skrg jamannya kompetensi sih.
    gelar S2, kl ga kompeten ya sami mawon.

    nah, kl mo keluar negri, otomatis juga, kompeten kagak ?? palagi saingannya mustinya lbh unggul, scr, kurikulum pendidikan mrk lbh kompetitif.

    aku mah, pengennya, jalan-jalan alias travelling ke dalam dan luar negri, chik😆

  24. aoi hime berkata:

    Kenapa kerja jauh-jauh?

    Biar dapat duit banyak… biar menaikkan kualitas otak, pendidikan, de-el-el.. biar bisa mensejahterakan keluaraga, biar bisa nyombong ama orang Indonesia. N yang paling penting…

    Bisa keluar dari Indonesia yang serba krisis dan digerogoti para koruptor. Enak diluar negeri aja, lebih bahagia, lebih nyaman, lebih aman..

    Tapi masalahnya,, bisa kerja diluar negeri ga mudah..

    BTW, salam kenal!🙂

  25. CY berkata:

    Itu karena cK belum pernah kerja disana, kalo udah ngerasain… pasti ketagihan. Jadi kerja bukan semata-mata krn penghasilan, juga terkait kenyamanan dan keamanan hidup. Di luar memang lebih aman dari sini kok Chik. Nonton konser Andy Lau aja dompet dijamin ga ilang kok…, padahal kami berkecimpung di lautan berisi 1000 manusia. Bandingkan dengan nonton konser gratis Peterpan disini hehehe…

  26. Nazieb berkata:

    Jaman sekarang mana ada yang mau negeri yang isinya hujan batu? Ya mending yang ada hujan emas-nya donkz…

    Saya ini kerja di luar negeri lho tante… swasta maksudnya..😀

  27. indrio berkata:

    Keluar negeri, didalam negeri …
    Ah saya pikir mah sama aja … dunia yang udah dianggap kaya ‘kampung’ global ini, ngga masalah mo kerja dimana. kalo emang diluar negeri ada yg mo kasih kita kerjaan, ya udh ambil aja .. or .. jaman sekarang udh biasa jg kerja dengan cara remote. Bos kita di mah Munchen, kita nya di Jakarta, anak buah di Bandung atau Sydney.

  28. iman Brotoseno berkata:

    mungkin hanya dilihat dari bagaimana mendapatkan pengalaman kerja. Karena referensi kultur kerja di luar tentunya berbeda. Hampir tidak ada KKN, jadi kita terdorong lebih giat dan keras. Kalau masalah pendapatan sih relatif. Dengan posisi dan kualifikasi yang sama, untuk pekerja pekerja well trained , rasanya nggak beda jauh kok standard gaji di luar dan sini.

  29. julia berkata:

    nah.. apalagi jaman skrg kerja di endonesya sstem kontrak..
    buseeeetttt.. tiap tahun perbaharui kontrak! cape deh.. pengalaman jadi nol lg..
    beneran deh, mending kerja d LN.. di negri sendri mah sakit hati!

  30. sandymc berkata:

    Kerja di luar negeri itu:
    1. Dijamin bisa hidup layak di negara tersebut
    2. Lebih dihargai
    3. Senioritas tidak terlalu ditinggikan, ide dan kerja keras lebih dihargai
    4. Tingkatan Sosial dipandangan sesama orang Indonesia menjadi lebih tinggi (kayaknya sih.. contoh: “si anu dah kerja di amrik lo.. hebat ya” .. padahal di amrik cuman jadi bartender di starbak)
    5. No Pain No Gain.. kalo di Indo, bisa PAINNNNN terussss.. ato bisa GAIIINNN mulu
    6. kayaknya cewek bule lebih asik2 hohohohoo *tersenyum licik*

    haha.. kira2 bgitu deh cik menurut saya. Oh ya, soal S2 disetarakan dengan S1, jaman sekarang ini orang yang lulusan S2 tingkat kepandaiannya gak jauh beda dengan yang S1. Apalagi banyak yang nawarin S2 satu tahun, jadi perusahaan2 ngeliat sistem S2 sekarang udah gak kompeten.

    lagian.. kayaknya mending ‘S1 + setahun pengalaman kerja’ daripada ‘S1 + S2’. malah kalo keterusan ampe S3.. dijamin seumur hidup jadi aktivis ato peneliti ato dosen😡

  31. woelank berkata:

    kerja di luar negeri:
    1. hasil lebih dihargai, bukan titel atau koneksi
    2. diawang2 salary lebih guedhe, walaupun tanpa sadar VAT dan Life expensenya sama2 guedhenya sampe nabung pun sulit.
    3. kalo punya work experience di luar sangat2lah mudah untuk dapet kerja lagi di Indonesia, dan lebih memudahkan juga untuk dapet kerja lagi di luar walopun tidak semudah di Indo.
    4. Tanpa gelar kesarjanaan pun bisa mendapatkan posisi yang bagus bila nama kita sudah diakui, namun bila sekonyong2 ingin kerja di luar walaupun ada perusahaan yang menerima, akan sedikit sulit untuk mendapatkan working permit (kecuali sudah diurus dan ditanggung perusahaan).
    5. Prestige
    6. Silahkan mencoba sendiri….😛

  32. Menik berkata:

    ya…

    sampai kapan negeri ini akan terus menerus kehilangan putra2 terbaiknya ?

    atau putra2 terbaik itu yang malah ingin membangun negeri orang ?

    saya rasa tidak mungkin mereka berpikiran spt itu😦

  33. Eriek berkata:

    kerja di Indonesia karena mencintai negeri Indonesia dengan segala kekuarangannya. kita (mungkin) sering melihat negara-negara lebih maju dan ‘mengerdilkan’ bangsa sendiri. memaki-maki bangsa di mana ia dilahirkan. tapi bagi saya mencintai Indonesia apa adanya. kalau bukan kita yang membangun bangsa ini lebih baik dan maju, siapa lagi?

    kerja di luar negeri adalah pilihan hidup. memang menggiurkan karena pendapatannya lebih besar jika dibandingkan dengan di negeri ibu pertiwi ini.

  34. wieda berkata:

    di Indonesia KKN nya gede….hehehehehe…masak mau jadi PNS saja mbayar? laah kerja kan dibayar, bukan dibayar????

    aneh negriku tercintah itu……
    tapi di LN saya kuli li….yg ngga punya prestige. Beda dengan di Indonesia

  35. rangga berkata:

    kalo kata temen-temen saya.. kerja di indonesia masih ga diakui kemampuannya.. segalanya masih berbau koneksi.. jadinya pada ngabur ke negeri tetangga deh (bukan republik mimpi pastinya)..

    kalo di negeri tetangga, kemampuan sangat menentukan dalam kemajuan karir dan diterima tidaknya seseorang di tempat kerja. yah.. entahlah.. apa karena gajinya lebih gede juga? *uhuk..uhuk* batuk-batuk karena ngomongin orang..

  36. Jumawa berkata:

    Soal gaji di luar negri sih, kyknya, emang seimbang dengan biaya hidup di sana. . Tapi kalo disisihkan sangunya sedikit saja buat dikirim itu sudah bikin ortu di kampung lompat lompat girang soale nilainya di sini jadi gede. jadi ini masalah kurs ya😆 atau entah apa namanya prbandingan nile mata uang itu sayah ndak mudeng

    sayah kuliah ngambil bahasa asing je😕 agak2 ngincer kerja d luar negri jugak sih, kalo gini sayah jadi ngerasa bersalah sama indonesia😀

  37. abiehakim berkata:

    Bagi TKI/TKW mungkin gak ada pilihan lagi, makanya lebih baik ke LN
    Bagi yg dapet beasiswa di LN atau yg sengaja kul di LN tentu gak ingin “dibayar” kecil donk..pikir mereka..:”enak aja, emang kuliah disono murah!”
    Kenapa pekerja asing dibayar mahal di indonesia? karena banyak investor asing masih percaya bahwa orang indonesia maaf..oon dibanding non indonesia, maka lebih baik investor membawa “orang mereka” atau yg lain asal bukan indonesia…saya rasakan sendiri tuh hinnga saat ini di Batam.

  38. Agustian berkata:

    sktr 30 tahunan yang lalu taiwan sempat khawatir krn orang2 pinternya yg sekolah diluar negeri (eropa dan amerika) gak pada pulang kampung begitupun india, banyak doktor2 mudanya yg bekerja di amrik, tapi liat sekarang, taiwan dan india menjadi negara yang maju dalam banyak hal terutama di bidang IT (jauh meninggalkan Indonesia) krn pada akhirnya orang2 pinter yg sekolah diluar itu pada pulang kampung dan membangun negerinya. So, gak usah khawatir, pada suatu saat bakalan pada pulang orang2 pinter Indonesia yg tersebar di seluruh dunia itu, hati kecil-nya tetap Indonesia kok🙂. Brain drain, begitu orang menyebutnya, tidak usah dikhawatirkan, anggap investasi buat masa depan. Saya sendiri gak dibiayain pemerintah, jadi gak ada beban moral untuk “mengabdi” ke pemerintah🙂

    Salam

  39. ramdani1428 berkata:

    Mendingan kerja bangun Indonesia deh. Siapa lagi yang mau bangun Indonesia kalo bukan kita

    khawatir gak dihargai? ya kita mesti mengubahnya kita yang punya tanggung jawab untuk mengubah paradigma bahwa lulusan luar lebih baik daripada dalam negeri

  40. benazio berkata:

    yaah mending kalo kuliah di luar ya kerja diluar secara pasti pendapatan lebih gede, yaa sukur2 biaya hidup bisa dikurang2in ..

    tapi ..

    ya gitulah indonesia, kadang kalo udah kepinteran, sukses di luar negeri, lupa ama negeri sendiri, jadi negeri orang laen yang dikembangin, bukannya balik lagi ke indonesia .. serba salah, kalo semua cinta indonesia mestinya yang udah sukses diluar balik lagi ke indo dan ngembangin indooo!!!! huuuuu!

    ck mau pergi? ya kita sih oleh2 aja hehe

  41. och4mil4n berkata:

    fenomena brain drain.. huehuehue..

    tetep cinta tanah air ah..
    kalo mentok gak bisa kerja di swasta atau pemerintah, ya udah.. mending usaha kecil2an sekalian merangkul masyarakat sekitar. itu baru maju sama-sama.

    *semoga mimpi saya jadi kenyataan di Papua*

  42. si bolang berkata:

    kerja kan buat cari nafkah trus buat hidup bahagia, ya kalo begitu labih baik hidup bahagia diluar sana dari pada sengsara di negeri sendiri😀

  43. Fajar berkata:

    kalo menurut gw sih gak lebih dari sekedar cari pengalaman, setau gw kalo di luar susah buat naik pangkat, dan hidup disana kayak udah di takar, gak lebih gak kurang. kecuali kalo orang itu bener2 briliant mungkin cepet naik pangkatnya dan taraf hidupnya:mrgreen:

  44. takochan berkata:

    ah, topik ini “jeng mariaaa christin sekaliii”😛
    Saya pernah juga mikir gitu, sayang juga bibit unggul dilepas gitu aja. Tapi yaa.. lama2 jadi mikir peruntungannya memang disitu kali. Mo di luar negri kek, di dalem negri kek, di luar pulau kek, luar daerah kek, toh masih di bumi ciptaan Allah juga kan?😉
    *kesambet jin sok bijak*😆

  45. Daniel berkata:

    ya sayang jugakan klo bibit unggul dianggap biasa2 aja di negeri sendiri. mendingan ke negari luar keunggulan kita tersebut bisa lebih dihargai…😛

  46. kw berkata:

    haha ga usah ada nasionalis2an. mending kerja di luar. yang punya hak nasionalis lebih banyak aja malah pada korup gitu….

  47. Chic berkata:

    lulusan S2 dalam negeri dihargai sama dengan lulusan S1 luar negeri? Jaaaah bener banget Chik! Saya ini salah satu korban, ketika perusahan menerima seorang pegawai lulusan San Fransisco dengan gaji 2 kali lipat dari gaji saya, dan sekarang terbukti tuh orang ga bisa apa-apa.

    *mau marah*

    hihihi.. lah jadi curhat colongan:mrgreen:

  48. leksa berkata:

    tidak ada hubungannya lulusan luar negoro dengan rasa nasionalisme,..
    apatisme itu bisa tumbuh pada siapa saja..

    *komen serius ala Parpol…

  49. Relz berkata:

    Kalau yang rel tau sich, banyak temen” rel yg kerja di luar. Mereka bilang penghasilan mereka disana balance antara pemasukan dgn kebutuhan.. malah cukup untuk di tabung. Pas balik Indo penghasilan yg dia tabung uda bs berlipat ganda banyak. Itu klw posisi kerjanya yg biasa aja. Tp klw kerja nya uda bagian prof wew.. ga kebayang d he5..

  50. Lubyz berkata:

    WADOH…
    saya aja sekolah smk…
    maunya sih langsung kerja,
    lha yang lulusan s2 aja cari kerja susah…
    APALAGI YANG ENTAR LULUSAN ANAK SMK INGUSAN SEPERTI Q INI???
    TIDAAAAAAAKKK…
    TAPI Q HARUS TETAP BERJUANG!!!

  51. grace berkata:

    kepikiran banget sih tan buat membangun indonesia dulu..tapi gimana, lha tergiur sama gaji gede dan lebih banyaknya penghargaan yang di berikan oleh pihak luar…
    eh tapi, saya insya Allah pulang kok… tunggu saja kedatangan saya..jangan kangen…
    *di kemplang*

  52. fenny berkata:

    sebenernya kerja dimana aja itu sama. kerja di taiwan dengan gaji 8jt tetep aja setara dengan gaji disini… coba dihitung berapa biaya hidup di negri orang… ini masalah gengsi aja sih, kerja di luar itu kayaknya keren. bagusnya memang orang kuliah di luar negri tp trus kerja di negri sendiri untuk ningkatin kualitas negri ini. tapi sayang masi sedikit yg memahaminya…

  53. Domba Garut! berkata:

    Terlepas dari banyak pemikiran pribadi yang berbeda dari satu dan lainya, dari skope yang terkecil yaitu individu si TKI, mungkin agendanya adalah mencari pengalaman kerja/kuliah diluar lepas itu baru akan kembali dengan ‘added values & hands on experience’.

    Mengingat globalisasi dan persaingan global yang sengit dan sudah bersifat strategis, diluar pertimbangan ekonomi saja.. penting buat individu mulai untuk melengkapi diri dengan kapabilitas itu..

    Mungkin lepas itu semua terpenuhi, barulah dorongan untuk kembali dan mengabdi akan dengan sendirinya tergulir dimana kapabilitas sumbangsih bisa lebih besar dan efektif. IMHO, lho…

    Ini sebuah siklus dan seleksi alam kok.. there will always be people around to watch home front.. as competition out there may definitely be fierce😀

    Salam hangat dari Afrika Barat, entry kali ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya baca disini. *Hugs!*

  54. Ries berkata:

    Hanya bisa melepas salah satu bibit unggul untuk bekerja nun jauh disana.

    Yahh…siapa tau di sana malah berkembang biak dan membawa pulang lebih dari satu bibit unggul ke negara ini chik:mrgreen:

  55. Fickry berkata:

    Adakah yg salah dari artikel di atas?
    Tidak sama sekali..

    Dari segi materi, tinggal di luar negeri memang menjanjikan.
    tapi untuk urusan ukhrowi..mikir seribu kali deh..

    *Fickry yg bentar lagi mo pulang ke tanah air*

    *mode GAK SABAR on*

  56. fickry berkata:

    mo kopdar di palembang ya??

    wah mau donk..

    tgl 27?? wah saya baru sampe palembang tgl 29..hiks hiks

    salam buat komunitas WOng Kito yak..🙂

  57. si air minum berkata:

    dulu selepas smu saia dapet program beasiswa kuliah di belanda,
    tapppiiiii…
    dengan banyak pertimbangan, akhirnya saia lebih memilih kuliah dalam negeri saja. eh ternyata sekarang malah jadi Pegawe Nan Sejahtera
    hidup endonesiyah!!!

  58. Guh berkata:

    Ada beberapa orang di kampung saya pada ekspor istri, dijadikan tkw ke taiwan. Emang duitnya dapet gede. Tapi kebahagiaan mereka terlihat aneh, suami yang ditinggal banyak yang sibuk ngabisin duit dengan rokok, minum dan selingkuh, sering istrinya tahu tapi santai saja. Anak-anaknya terbengkalai tapi tidak kelihatan seperti sakit jiwa.
    Orang-orang yang aneh dan tahan “banting”.

    eh, jadi oot. Maksud saya, kalau ada yang mau kerja diluar, ya kenapa tidak. namanya juga jualan skill dan tenaga, ya cari yang berani beli tinggi lah, masa mau ngasih gratis?
    Tujuan hidup itu kan memang untuk cari duit. 😛

  59. Chocoholic berkata:

    kenapa kerja jauh2?

    karena dibanding dulu kerja di indonesia, disini lebih dihargai, baik berupa penghasilan yang layak maupun perlakuan yang baik.

    karena so far disini belum pernah sekalipun mengalami yang namanya sexual harassment, sementara selama kerja di jkt dari thn 97 hingga 2001, itu sangat sering terjadi terhadap saya maupun rekan2 wanita saya.

    karena sistim perpajakan dan jaringan sosial yang jelas, walaupun kerja swasta, tapi giliran tidak kerja lagi dan pensiun, akan dapat tunjangan dari pemerintah.

    karena asuransi kesehatan terjangkau dan baik sekali, sehingga tidak pernah khawatir apabila sakit dan harus masuk rumah sakit.

    karena etika bekerja juga jelas, tidak ruwet seperti di indonesia.

    karena tenaga kerja sangat dilindungi oleh hukum yang berlaku, mulai pembantu hingga bos, sehingga tidak bisa diperlakukan seenak udelnya saja.

    karena apabila memiliki keluarga dan anak, pendidikan anak terjamin kualitasnya dan gratis pula.

    sebetulnya apabila di indonesia semua hal yang diatas itu terjamin, saya kira SEMUA yang tinggal dan bekerja di luar tidak akan berpikir dua kali untuk kembali dan menetap di dalam negeri lagi.

    “kenapa kalian gak pulang untuk memperbaiki negara?” –> soalnya dari jaman kuda masih gigit besi, di indonesia itu yg ‘baik dan lurus’ selalu kalah sama yang korup dan yang jahat…

    sorry ya panjang banget.. abis sebetulnya pengen banget balik dan kerja di indonesia, tapi ntar saya makan batu deh disana..

  60. dimasu berkata:

    gapapa kerja ke luar.. toh nanti dapat duit banyak, dibelanjainnya di Indonesia. negara juga yang untung dari devisa..

    lagipula dengan kerja ke luar, posisi kerja di dalam negeri bisa diambil orang lain yang juga butuh kerja. di dalam negeri masih banyak penganggurannya.

    lagipulanya lagi, di luar sana kita juga membawa bendera Indonesia yang bisa mengangkat nama Indonesia..

  61. AdityaWirawan berkata:

    Wahh saya terdorong untuk kasih komen nih. Karena saya termasuk didalamnya, bekerja di Malaysia.

    Saya setuju dengan komen mas iman, kalau soal gaji, sebenarnya pekerja yang profesional tidak berbeda jauh antara Malaysia (contoh) dan Indonesia. walau saya melihat Mly lebih banyak dalam hal memberikan gaji.

    Dan komen2 lainnya yang saya setujui adalah yang telah terbuka matanya seperti domba garut, dimasu, dll.

    Tapi saya tidak setuju dengan komen-komen yang menyatakan bahwa kami yang bekerja di luar negeri ini tidak cinta akan Indonesia, tidak membangun Indonesia. Kata siapa? Wong kami ini menyumbangkan devisa kok. Banyak lho devisa yang disumbangkan oleh pekerja-pekerja kita diluar negeri. Dan itu sangat membantu bangsa kita juga.

    Dan untuk tambahan, Kami para pekerja profesional akan berusaha memberikan dan menjaga nama baik bangsa kita dimana tempat kami bekerja dan berkunjung. Dan itu juga sangat membantu bangsa kita. Karena kami insyaAllah akan memberikan semngat kerja yang sangat baik, sampai banyak orang yang memuji orang Indonesia itu pekerja keras dan rajin.

    Ini zaman globalisasi… jadi bekerja dimanapun itu sama. Karena saya yakin Indonesia tidak akan kehilangan para pekerja profesionalnya, karena akan silih berganti lahir profesional lainnya. Kan sebetulnya hanya berapa persen kecil saja pekerja profesional Indonesia yang bekerja diluar.

    So whats the problem? kita sama-sama menyumbanglah. Percuma dong kalau kerja didalam negeri tapi korupsi. Percuma dong kuliah didalam negeri tapi demo anarkis.

    komen saya diatas bukan untuk chika. Tapi agar kita sama-sama membuka mata kita akan globalisasi.

  62. elvis berkata:

    Banyak orang yang merasa ilmunya lebih dihargai di luar dari pada oleh bangsanya sendiri. Tapi ya mudah2an mereka suatu saat akan kembali ketika bangsa Indonesia sudah bisa lebih menghargai ilmu pengetahuan, dan mereka siap membantu pembangunan di Indonesia.

  63. agn berkata:

    bagusnya orang indonesia menjajah dunialah.. jangan berpikiran sempit dengan berkata bahwa kerja di LN artinya tidak nasionalis, toh yang ngirim duit dan menjadi devisa jg banyak dari “pahlawan devisa” itu…

    Banyak ahli LIPI yang sekolah tinggi di Luar balik ke indonesia malahan nggak bisa mengembangkan ilmunya di institusi tsb. Eh malahan ikut parpol…

    Orang indonesia juga musti melihat dunia..kalau bisa jenis kualitas kerjanya ditingkatkan setiap tahunnya, jangan hanya menjadi pekerja kasar..

  64. dee yan berkata:

    Kerja ke luar negri tuh kita bakalan menjabat jabatan rendah banget,kecuali kita punya kemampuan khusus, kebanyakan orang Indonesia yang kerja keluar cuma mencari uang semata, yang kerja apapun juga ok, bisa jadi pembokat, jadi buruh kasar, jadi tukang-tukang kasar. Sebenarnya derajat kita jika kerja di negri sendiri jauh lebih tinggi.

  65. Resi Bismo berkata:

    ya iyalah kalo lulusan s2 LN nya fresh sama aja sama lulusan S1 fresh, dimana2 namanya sekolah cuma teori doang, prakteknya di lapangan kerja. Jangan disamain lulusan LN s2 fresh sama lulusan S1 lokal pengalaman 5 tahun.

  66. Lita berkata:

    Klo lita alasannya simpel banget, karena Fasilitas Riset and Development di LN contohnya malaysia lebih OK daripada di Indonesia. Tidak hanya dari sisi kehidupan yang lebih layak namun juga kepuasan jiwa yang terpenuhi. Namun ada beberapa perusahaan dan universitas yang telah membuat MoU sebagai bentuk kerjasama mutualisme. Perusahaan MIMOS Sdn Bhd telah memiliki MoU dengan ITB, IPB dan UI. Contoh yang paling baru : colaboration research project antara universitas di indonesia dengan universitas di malaysia. Mgkn ada colaborasi yang lain antar negara. Maaf Chik, lita nyampah disini…. Makasih

  67. rio berkata:

    ah kalo sy lebih baik buka lapangan kerja sendiri biar orang sekitar dpt pekerjaan meskipun jika ditotal kemungkinan untungnya tidak begitu besar…

    MERDEKA INDONESIA…!!

  68. didut berkata:

    aku pikir nanti 2015 semua bs masuk IND, nah kita juga harus biasa untuk menerima tantangan ke luar dung ah . Salah satu kelemahan orang IND adalah tidak berani untuk mencoba tantangan bekerja ke luar negri (sepertinya). Di pasar bebas nanti bisa jadi handicap tuh hihi~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s