Saya punya seorang teman yang berjiwa jurnalis. Ia sangat menyukai dunia menulis dan bekerja pada suatu media cetak sebagai penulis. Ia telah berkeluarga dan memiliki dua anak. Ia menjalani pekerjaannya dengan sukacita.
Namun dengan beratnya tinggal di Ibukota, penghasilan yang didapatnya membuat ia belum memiliki banyak tabungan. Setiap bulan gajinya habis untuk keperluan sehari-hari, bayar kontrakan, beli susu untuk anaknya, bayar tagihan listrik dan masih banyak lagi.
Ia pun kerap meminta tolong kepada teman-teman lainnya untuk mencarikan kerjaan yang sama, dengan gaji yang lebih besar. Tetapi sampai sekarang ia masih tetap terperangkap di tempat yang lama, alias belum ada pekerjaan yang sesuai dengan gaji yang ia inginkan.
Maka ia pun memutuskan, apabila ada pekerjaan, bidang apapun, yang mampu menghasilkan pendapatan lebih besar, maka ia akan meninggalkan kecintaannya pada dunia menulis dan memilih pekerjaan tersebut. Padahal ia pernah mengatakan pada saya, bahwa ia mempunyai idealisme tersendiri dan hanya mau bekerja di bidang yang ia sukai.
Saya pun menyimpulkan, sepertinya untuk kondisi ini, materi mampu menggeser idealisme. Tidak hanya teman saya, namun masih banyak teman-teman lainnya yang harus rela meninggalkan idealismenya demi sesuap nasi. Banyak teman saya yang lulusan jurusan tertentu, akhirnya bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan keinginannya. Banyak yang akhirnya mematikan idealisme dan mengubur cita-cita, demi mendapatkan pekerjaan.
Saya sendiri termasuk yang masih memegang idealisme. Saya hanya mau kerja di bidang yang saya minati dan berhubungan dengan jurusan yang saya ambil. Saya bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan. Bahkan kedua pekerjaan saya merupakan pekerjaan yang saya cintai. Menulis dan musik adalah hobby saya. Namun sampai kapan ini akan terus berlangsung. Apakah idealisme ini akan tergeser seiring pergerakan perekonomian Indonesia yang luar biasa ini?
Semoga saja tidak.
.
Januari 5, 2009 pukul 1:03 am
Januari 5, 2009 pukul 1:16 am
Life is unpredictable, dear.
¤ cK ¤
indeed.
Januari 5, 2009 pukul 1:32 am
Makanya cepet cari suami yang mapan, terus kawin…
*disambit*
¤ cK ¤
sampeyan udah kebelet kawin, yak?
Januari 5, 2009 pukul 1:37 am
tp dia masih memiliki sedikit idealisme juga. daripada makan duit amplopan masih mending cari yg lain yg halal
¤ cK ¤
setuju.
Januari 5, 2009 pukul 1:58 am
Buset dah…
Jam segini
Catshadesi meong pulomas belom bobok….Januari 5, 2009 pukul 2:00 am
Kalo sayah rasanya udah cocok Chik….
Sayah lulusan sastra, kerjaannya nge Blog.
.
***kalo ngitung duit receh ituh hobby,…***
Januari 5, 2009 pukul 4:39 am
Setuju sama catshade…
Januari 5, 2009 pukul 6:29 am
ah kalo masalah kawin itu gampang aja. yang penting: NIKAH DULU
memang chik, ketika idealisme kita tidak bisa menjadi sumber penghidupan, maka sangat sering idealisme itu digadaikan dan ambil sumber lain yang lebih menjanjikan..
ada pay-off yang harus dipilih
contoh nyata adalah mahasiswa tukang demo. ketika sudah lulus dia akan masuk begitu saja ke partai politik dan bertingkah busuk seperti tokoh yang dulu-dulu didemonya.
idealismenya sudah terbeli!
Januari 5, 2009 pukul 6:50 am
Soale beli kebutuhan pake duit, bukan idealime.
Januari 5, 2009 pukul 7:25 am
Duniawi memang kejam …
Idealisme sedikit demi sedikit memang harus dikesampingkan. Kita ini hidup unutk apa to ? Hidup untuk makan atau makan untuk hidup.
Terus, kapan nikah ? *dipentung*
Januari 5, 2009 pukul 8:38 am
bener mbak saya juga termaksud orang dengan idealisme, idealisme ku untuk dapet uang yang banyak,
*di kemplang mbak CK*
Januari 5, 2009 pukul 8:38 am
*kesindir*
PLAK!!
Januari 5, 2009 pukul 8:39 am
bukan materi yang menggerogoti idealisme, tapi pernikahan
gue jamin kalau dia stay single dia bisa mengikuti idealismenya :p
materi tidak akan pernah menggerogoti idealisme kalau kita tidak membiarkannya…
lagian idealisme bawa pengorbanan juga, kecuali idealisme eloe adalah…
Materialisme!
Januari 5, 2009 pukul 8:46 am
yup! saya sedikit diantara yang beruntung masih bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya dan tentu saja saya minati. Karena ga sedikit teman-teman saya yang akhir bekerja jauh dari apa yang dulu mereka pelajari di kampus, hanya karena alasan minimnya lapangan kerja (jadi dapet kerja apa aja sabet!) dan ya itu tadi bayaran yang sesuai…
Januari 5, 2009 pukul 9:22 am
yup kadang kita harus memilih jalan yang tidak kita sukai, namun anggap saja sebagai batu loncatan…..
Januari 5, 2009 pukul 9:34 am
Hmm, soalnya kalo dibelakang uda nebeng istri sama anak,
mau ga mau idealisme mungkin mesti digugurkan untuk menghidupi mereka
* yesh masi single *
Januari 5, 2009 pukul 10:16 am
cK,, mudah2an saya masih bisa mempertahankan idealisme saya – kerja jadi jurnalis dan tulis-menulis, meski ijazah saya bukan jurnalistik,, apalagi komunikasi
Januari 5, 2009 pukul 10:21 am
materi dan idealisme memang tidak selalu sejalan…
ada yang beruntung dan ada yang kurang beruntung…
ini mah menurut saya ujian buat pribadi masing-masing untuk menyikapinya…
apakah kita sudah bersyukur?
salamjoblesslhawongkerjaajabelumsibukngeliatinblogorang
Januari 5, 2009 pukul 10:42 am
Emang realitanya seperti itu sich
Lihat aja pejabat-pejabat di pemerintahan, gw yakin awalnya mereka memiliki idealisme yang kuat “demi kepentingan rakyat”, tapi karena keinginan yang ga pernah habisnya yang hanya bisa diselesaikan dengan materi akhirnya ya .. idealisme dibuang
Januari 5, 2009 pukul 11:18 am
di jaman skrg uang adalah segalanya.. seakan-akan uang sama pentingnya dengan oksigen… orang rela berbuat apapun demi selembar uang… jadi fenomena seperti itu udah ga aneh deh… wong skrg itu jaman edan..
Januari 5, 2009 pukul 12:18 pm
aku pernah nyortir lamaran buat jurnalis dasar (reporter), gaji yg dia minta 4 juta!!! gile aja, mana ada. umumnya, gaji segitu buat kelas redaktur hehehe
Januari 5, 2009 pukul 12:23 pm
idealisme orang beda-beda. Ada yang idealismenya kerja harus senang, hati gembira, ada yang kerja harus berdampak, ada yang kerja jangan ngusik nurani.
Ada yang punya idealisme sederhana, anak-istri tercukupi di rumah.
Januari 5, 2009 pukul 12:24 pm
hehehe selama itu halal its ok..
Januari 5, 2009 pukul 12:37 pm
berharap tetap bisa beradaptasi dengan baik ketika idealisme itu tergeser, dan mungkin aja kan menemukan idealisme baru.. who knows..
Januari 5, 2009 pukul 12:45 pm
setuju sama arya….
asal jangan akhirnya menjual diri dan idealisme demi amplop sogokan…
Januari 5, 2009 pukul 12:50 pm
Materi bukan segala-galanya di dunia ini…. ingatlah kelak ketika meninggal dunia bukan materi yang kita bawa… tapi amal perbuatan kita….
Januari 5, 2009 pukul 1:10 pm
wah..untung saya orangnya unidealism gitu (benar ga nulisnya)
cuma punya komitmen utk jadi milioner..kwka..kwka..kwka
http://oktasihotang.com/2009/01/05/postingan-awal-tahun-2009
Januari 5, 2009 pukul 1:18 pm
Ndutz dari masuk SMK ajah uda gak nyimpang dari apa yang Ndutz suka…nurutin mau orang tua, tapi Ndutz yakin nanti suatu saat cita-cita Ndutz bakalan terwujud
begh…hebat nih 2 pekerjaan…gajinya dobel dunk??
Januari 5, 2009 pukul 1:27 pm
Yep. Makanya gak semua orang kaya itu bahagia dan gak semua orang miskin itu sedih. Tapi faktanya kebanyakan saat ini adalah Money > Everything. Karena emang yang diperlukan untuk bertahan hidup adalah uang, bukan kebahagiaan di pekerjaan. Kalo soal nanti mati gak bawa materi itu urusan lain… kan prinsip hidup yang baik adalah senang2 di dunia mati masuk surga hoho.., dan jaman kejem bgini, kalo mau banyak seneng, mesti banyak duit juga
Temen IT gua banyak yang berlomba – lomba cari kerjaan di Bank Asing ato Oil&Gas Company, karena perusahaan2 itu nawarin gajinya lebih gede. Kalo ditanya ngincer jabatan apa, mereka jawab ‘tserah deh, yang penting keterima di perusahaan X’. Percuma dong kuliah 4 tahun haha
Kebetulan gua kerja di bidang yang gua suka dan pendapatannya juga kompetitif. ^ ^v.
Januari 5, 2009 pukul 1:38 pm
jadi teringat pembicaraan2 yang pernah terlontar dari mulutku ke chika, memilih uang atau hati? sampai sekarang masi bingung… fiuh!
Januari 5, 2009 pukul 3:09 pm
Idealis atau realistis itu pilihan. Tetapi kalau sudah urusan perut,.. ya… gitu deh.. heheheh
salam damai
Januari 5, 2009 pukul 3:54 pm
Chika suka menulis, suka musik & punya kerjaan yang pas sesuai dua talenta yang dimiliki. Saya suka corat-coret, suka komputer grafis & musik, tapi saya belum nemu kerjaan dibidang musik. Chika lebih beruntung daripada sayah domz
Januari 5, 2009 pukul 4:06 pm
idealisme saya, kerja itu harus bisa dinikmati. jadi biasanya biar sesuai bidang minat klo nggak enjoy biasanya gak bertahan lama. Untung aja sekarang tempat kerja cukup menyenangkan dan masih bisa nabung.
Januari 5, 2009 pukul 7:51 pm
kalau saya kerja nggak sesuai dengan latar belakang pendidikan, gajinya kecil, di tempat terpencil dan terasing, teman tidak ada, tunjangan minim, TAPI saya bahagia.
Itu idealisme nggak, Chik ?
Januari 5, 2009 pukul 8:33 pm
Semoga saja tidak mbak…
saya juga senang dengan menulis dan musik
oh ia mbak chika suka mainin musik ap?
ato jangan2 mbak chika adalah penyanyinya..
hehe…
tenang aj, selama kita masih dekat kepada yang maha kuasa
kita pasti aman dan selamat
Januari 5, 2009 pukul 8:39 pm
keadaan yg dapat mengubah orang
ada lagi yg berpendapat, menekuni pekerjaan sesuai dgn minat, meski sekolahnya berbeda
mantab tulisannya chik !!
Januari 5, 2009 pukul 10:33 pm
MMh..punten komentar sakedik…..kalau saya lebih cenderung mengusulkan (boleh khan ^_^ ) idealnya seseorang bukan menjadi seorang yang idealis, tapi menjadi orang yang kompromistis, tapi tentu saja tidak melanggar norma yang ada……Insya Alloh rezeki berdatangan dan halal….
Januari 6, 2009 pukul 4:07 am
Aneh… Alyak belum lulus, dan masih wartawan di media basbang tapi kok sudah nikah aja ya.
*kebuuuur*
Januari 6, 2009 pukul 6:13 am
Opo kie? ngecee… huhuhu
Januari 6, 2009 pukul 7:34 am
hmm…saya juga tdk tahu kapan idealisme saya akan bertahan chik
Januari 6, 2009 pukul 9:24 am
Itu namanya godaan ato cobaan cK ..
Btw .. teman mu itu ce or co cK? .. biasanya sih, kalo masih ‘bujangan’ .. idealisme itu masih kental. Tapi kalo sudah punya ‘buntut’ sepertinya harus merelakan idealisme demi menjaga kelangsungan ‘keturunan’ cK. Kalo ga gitu .. berabe
*jadi mikir, apakah korupsi juga gara² ini ya?*
Januari 6, 2009 pukul 10:36 am
kesindir banget nih huahhahaha….
meski gak nyambung dengan background, tapi kerjaan memfasilitasi passion gw buat jalan-jalan dan blogging huehehehe…. tak apalah…
Januari 6, 2009 pukul 11:17 am
yach…kadang kenyataan hidup bisa mempengaruhi sikap idealisme seseorang……..
jadi inget film Gie
sejak mahasiswa lantang menyuarakan aspirasi rakyat namun setelahnya malah memilih untuk berkuasa…
Januari 6, 2009 pukul 12:01 pm
gak papa lah. geser dikit… dari idealis menjadi pragmatis.
Januari 6, 2009 pukul 12:10 pm
Kunjungan Perdana !!!!!!!!!!!
Salam dari Blogger KalSel
Januari 6, 2009 pukul 9:46 pm
abis gimana, mbak.
gimanapun basic needs orang kan seputar perut…
Januari 6, 2009 pukul 10:45 pm
Menjadi idealis sama aja dengan memikul beban……
Kebanyakan idealis bisa berubah karena hal yg mengancam (kalau masih idealis ga dapet duit trus bisa2 kelaparan misalnya) atau ketika berhubungan dengan hal menyangkut orang lain (keluarga misalnya)..
Dia sudah berkeluarga, berbeda cerita kalo temennya mbak cK maseh njomblo. Sewaktu masih sendiri, idealisme mungkin masih bertahan. Meski kadang standar hidupnya diturunkan sebagai korbanya. Perut yg penting keisi, ga masalah biapun tinggalnya sampe harus *KLEWERAN* di jalan2…
Tapi ya itu tadi, karena dah menyangkut keluarga pasti pikiranya berubah jadi soal “Kelayakan Hidup” untuk keluarganya….
Idealisme yg berubah ga bisa dijustifikasi sebagai sebuah kesalahan. Ia berubah menurut fase kehidupan yg dialami seseorang (cuman pendapat saya lho)… ya gimana lagi,, mungkin fase berkeluarganya temen mbak memang mebuatnya “harus” berubah….
Btw,, maav ya kalo kepanjangan…
Januari 7, 2009 pukul 12:21 am
Yah, seagung-agungnya sebuah idealisme, tidak adil juga rasanya kalau kita memaksakan idealisme itu ke orang lain, apalagi kalau sampai harus mengorbankan mereka… idealisme itu, to some extent, adalah egois.
Januari 7, 2009 pukul 12:56 am
Tumben nulis serius Non?
Menurut pendapat sok tahu saya, yang bisa menggeser idelisme itu adalah raungan anak kandung yang lapar…
Seperti apa yang pernah saya baca kalau tidak salah dari pengakuan seorang musisi: Tidak mungkin bapaknya tenteng gitar dan mempertahankan idealismenya dalam bermusik sementara anaknya kelaparan….
Termasuk juga teman saya yang akhirnya bekerja sangat jauh dari bidang pendidikannya ketika telah memiliki seorang putera. Dia merelakan dirinya untuk jadi sesuatu yang saya yakin tidak akan pernah dipikirkannya sebelumnya, karena kalau tidak bekerja, mau kasih makan apa puteranya.
Januari 7, 2009 pukul 1:41 am
suruh dia baca rich dad poor dad, chik, huehehehe
Januari 7, 2009 pukul 7:57 am
Idealisme gw adalah membahagiakan orang lain
*sok keren*
Januari 7, 2009 pukul 11:01 am
hahahaha.. iya emang banyak ck yg spt itu.. tp ad jg loh yg sukses wlpn lawan arah. Gak semuanya berakhir dengan buruk. Asal mau berusaha, pasti ad jalannya. *gw salah satunya yg lawan arah*
Januari 7, 2009 pukul 11:19 am
idealisme kalah ama perut lapar….
Januari 7, 2009 pukul 12:49 pm
kata orang idealisme bisa menciptakan lebih banyak kesempatan; tetapi saya sendiri juga tidak atau maksudnya
Januari 7, 2009 pukul 12:53 pm
*tidak tahu maksudnya
Januari 7, 2009 pukul 4:44 pm
yang pengen jadi penulis,
daftar kesini!
Januari 7, 2009 pukul 8:00 pm
Ironis memang
Saya berharap juga bisa tetap berpegang pada idealisme tetapi di zaman sekarang itu susah. Bukan karena materi saja hambatannya.
Januari 7, 2009 pukul 8:10 pm
makanya, saya agak deg2an…
saya tadinya orang yang sangat idealis.. tapi, makin kesini, makin mikir… will i stay on my idealism? jadi, makin kesini saya makin ga idealis nih, jadi sering ngasi toleransi2 gitu…
*apeu atuh, si saya teh ikut2an ajaaaa*
Januari 7, 2009 pukul 9:19 pm
By experience aja komentarnya. Idealis seseorang selalu akan bergeser. Pas sblm kuliah ingin jadi arsitek. Pas lagi kuliah, nggak mau lagi gw jadi arsitek, dan bingung. Lulus pas Krismon melanda, yg jelas2 gak ada kerjaan berhubungan dgn dunia kuliah gw. Justru pas saat itulah idealisme baru gw muncul. Ingin jadi seorang komikus. Bbrp tahun idealisme itu lalu bergeser, seiring dgn semakin banyaknya pengalaman yg gw terima dan seiring dgn tidak memadainya duit yg didapat.
Akhirnya apa yg gw kerjakan skrg, di dunia multimedia/online dan sekitarnya sdh sesuai banget dgn idealisme gw saat ini. Menghasilkan pula.
Nilainya nggak kira-kira pula
) Tapi sampai kapan? Gw jg gak tau. Idealisme itu kayak cita2. Selalu ingin lebih dari yg sudah didapat. Tapi buat gw skrg, idealisme gak melulu terkait dgn materi, krn Alhamdulillah, gw sdh lumayan berkecukupan utk ini.
Januari 7, 2009 pukul 9:29 pm
mbak chik, kapan-kapan aku beri link hasil rekaman sederhanaku menyanyi lagu Mariah Carey ya.. silakan dicek, satu kali take saja loo… ndak diulang-ulang, aku nyanyi we belong together, bye bye, I stay in love, Touch my body, don’t forget about us… hohoho… lumayan buat tombo ngantuk!
hahahahahhahahaa…
Januari 7, 2009 pukul 10:20 pm
bayaran jadi wartawan hanya cukup buat semalam.
tapi, saya tetap mencintainya.
Januari 7, 2009 pukul 11:46 pm
Owww, pastinya gitu Chik….
Kalo di Jakarta situasinya seperti itu, tapi kalo di luar ngga, masalahnya gimana kita menggeser itu…. ada sih, kalo mau bener bener kita tu harus bener bener hardcore dengan bidang kita, dpt sertifikasi, dll, baru idup tuh
Januari 8, 2009 pukul 1:30 am
Yg penting halal
hmm gimana kalo pekerjaan yg bukan bidang kita itu dijadikan sumber pencaharian dulu…kalo udah mapan, baru deh kejar profesi impian.
tapi keburu tua gak ya? *binun*
Eh, ariel ganteng tauuukkk…
Januari 8, 2009 pukul 1:56 am
Eeeemmmm,…… idialisme memang penting tetapi di saat idialisme bebenturan dengan dengan kenyataan kehidupan maka anak manusia tersebut akan mengesampingkan idialismenya tersebut sementara atau selamanya, tetapi percayala di dalam hati yang terkecilnya sebenarnya anak manusia tersbut masih punya keinginan untuk melawannya
Januari 8, 2009 pukul 4:24 am
idealisme…. mmmm….. *udah kecebur menjual idealisme dari dulu-dulu*
Januari 8, 2009 pukul 5:07 am
semoga bisa bertahan… tidak semudah itu perjalanan dengan idealisme itu yah sepertinya…
Januari 8, 2009 pukul 9:52 am
seharusnya kita jangan berpikir terlalu kaku seperti itu karena dunia setiap hari berubah
Januari 8, 2009 pukul 11:21 am
hmm… moga bisa bertahan dengan idealisme aja ya ck…
semangaaaat..>!!!
Januari 8, 2009 pukul 11:23 am
yuuupz…… semangaat aja yaaa..!!
Januari 8, 2009 pukul 1:27 pm
Dalem skali,
dan merasa tertohok uhuhu
Januari 8, 2009 pukul 6:37 pm
[...] juga tak kalah makin menderita. Hingga sering terdengar terjadi peristiwa di mana seseorang harus mengorbankan idealisme yg dianutnya. Atau juga ketika sesorang materi memaksa seseorang harus mengorbankan perasaanya [...]
Januari 8, 2009 pukul 11:14 pm
ujung-ujungnya duit juga tho??
Januari 9, 2009 pukul 10:50 am
halo Chika udh lama gak kesini nih
kalo baca kasus temennya Chika, kurasa dia berusaha bersikap realistis. tanpa menanggalkan idealisme tentunya. ketika seseorang dihadapkan pada kenyataan dan idealismenya tidak paralel dengan kenyataan tsb, maka idealismenya itu harus dipertanyakan….idealisme yang hanya mengedepankan teori dan kemustahilan bukanlah idealisme yang benar. idealisme yang benar adalah idealisme yang kokoh pada akarnya namun bersahabat dengan kenyataan.
lagian….mengenai pekerjaannya itu. saya melihatnya justru dia ingin fokus dan memperdalam keahliannya di bidang jurnalis namun dia menginginkan gaji yang lebih besar karena kebutuhannya juga semakin banyak. wajar banget?!
btw…eke serius be-ge-te deh
Januari 9, 2009 pukul 5:39 pm
chika, tulisanmu apik. enak dibaca….
semoga kita tetap teguh mempertahankan idealisme itu, dan tentunya selama keberuntungan itu masih berpihak pada kita.
Januari 10, 2009 pukul 2:25 am
hmm…. ada temanku kebalikannya malah, gara2 kerjanya ngak sesuai idealisme malah keluar..
masing2 orang punya kadar mempertahankan idealisme berbeda2..
parameternya pun berbeda…
yah itu kali dari niat
Januari 11, 2009 pukul 12:57 pm
intinya rejeki mah ga tau dimana, kita yang harus pinter2 cari rejeki,jangan terpentok sama idealisme aja,,karena hidup emang misteri berikut paket2 di dalemnya
..
Januari 11, 2009 pukul 2:18 pm
mungkin temennya chika bukan akan berenti nulis.. hanya saja mungkin dengan cara yg beda, bukan jadi jurnalis..
Januari 12, 2009 pukul 2:46 am
Seringkali komentar dilontarkan pada para idealis ne
” makan tuch idealisme”
Januari 12, 2009 pukul 9:38 am
memang sgala sesuatu yg brhubungan dgn materi itu slalu membntuk dimensi yg tak terpetakan. dan itu manusiawi. yg smpet pny idealisme aja bsa banting setir. apalg yg pny ajian ‘let it flow’ yak? *kayak saya*
Januari 12, 2009 pukul 11:17 am
saya masih idealis juga
Januari 12, 2009 pukul 1:05 pm
‘menghela napas’
‘ngeloyor’
Januari 12, 2009 pukul 1:09 pm
kerja di kandang ga idup, kerja di kantor kangen kandang….
‘curcol’
Januari 12, 2009 pukul 4:29 pm
percaya bahwa ck masih berjiwa idealis… saya masih ingat bagaimana ck menolak tawaran pekerjaan yang BAGUS karena ck masih ingin punya waktu luang untuk mengajar piano
Januari 13, 2009 pukul 3:47 am
Klo cuma idealis jgn udah ngerasa cukup, peningkatan kualitas harus terus, jd tetep profesional abis. Biar ga mood tetep jalan krn yg lain bisa jd ga berhenti ningkatin kualitas. Nanti klo kualitas dah mumpuni, duit datang sendiri euy, bukan dicari, malah nyari kita (yg punya duit maksudnya). Lagipula untuk pindah pekerjaan yg ga terlalu disukai, belajar lg dr awal, dan karena ga terlalu suka, cepet ngerasa berat sewaktu mempelajari bidang baru-nya, perkembangannya malah melambat. Jadi yg salah bukan pekerjaannya, tp kualitasnya dan skill marketing (menjual diri :p) yg masih kurang..
Januari 18, 2009 pukul 6:10 pm
beruntung sekali kamu. dapat melakukan sesuatu yang kamu sukai.
yang “menggerakkanmu”. tapi tidak semua orang seberuntung kamu kan? dan akhirnya berkompromi. saya selalu berpikir bahwa jangan jadikan pekerjaan
–yang sesuai dengan idealisme atau tidak– membunuh sebagian diri kita waktu demi waktu. kalau bekerja hanya demi mendapat nafkah, lebih baik jangan bkerja. karena nanti pkerjaan tsb akan berakhir jadi beban kewajiban yang harus dipenuhi. yang coba saya katakan adalah bahkan seorang penulis pun –namun yang bekerja hanya demi mendapat apresiasi atas pkerjaannya– akan selalu resah bila ia tidak punya bahan tulisan di kepalanya yang dapat ia jual
Januari 24, 2009 pukul 1:48 pm
Itulah hidup..
Februari 7, 2009 pukul 12:49 am
Perlu ada batasan apa yang disebut idealisme, dengan kondisi saat ini.. “uang” adalah idealisme baru, apa pun pekerjaan nya minum nya teh botol s*s*o.. ups.. yang penting banyak uang, karena uang bisa membeli hampir segalanya kecuali hati nurani…
Mungkin… kalo kita hidup ditengah masyarakat yang tidak butuh dan tidak mengaggap uang adalah segalanya.. akan lain lagi idealisme nya..
Cheers
Maret 16, 2009 pukul 1:20 pm
memilih perkerjaan untuk bekerja di industri kreatif ( penulis, pemusik, pelukis, penyair ) atau di bidang olahraga (sepak bola, tinju atau bulu tangkis ) belum bisa di kategorikan sebagai pekerjaan yang settle di mata masyarakat kita. karena cenderung habis dimakan waktu oleh trend sesaat.
tidak jarang bila sang orang tua walaupun tahu anaknya berbakat di bidang musik atau di bidang tulis menulis, selalu berusaha keras untuk menasehati anaknya agar hal itu dianggap sebagai hobi saja, seharusnya kamu belajar untuk tembus CPNS dan berkerja di instansi pemerintah yang notabene pasti akan selalu mendapat zona aman secara finansial.
hal ini berbeda dengan amerika serikat yang memiliki harapan besar untuk berkerja di industri kreatif dan industri olah raga untuk mendapatkan uang banyak ( berkecupan bila terjun di kedua bidang ini)
tony hawk?? bisa tajir abis hanya dengan bermodalkan profesinya sebagai skate boarder
heather armstrong (dooce.com) bisa mencukupi kehidupan satu keluarganya hanya dengan ngeblog dan menulis cerita diarynya di dooce.com
http://www.denioktora.com