Salah satu kasus yang mendominasi perfilman Indonesia adalah adaptasi film, tiru-meniru, mencontek, plagiat sebagian hingga plagiat total. Baik industri film maupun industri musik mempunyai permasalahan yang sama. Sebutlah kasus lagu “Tak Bisakah” yang dinyanyikan Peterpan, setahun kemudian ditemukan di India sebagai soundtrack salah satu film India, tentunya dengan bahasa India. Begitupula dengan lagu “SMS” yang katanya memplagiat salah satu lagu India. Apakah ini karma atau balas dendam??
Back to the topic, pada intinya tiru-meniru hingga plagiat telah mendarah daging. Hanya saja hal ini tidak pernah diangkat lebih lanjut. Selalu putus ditengah jalan. Mulai dari hal kecil seperti mencontek pekerjaan rumah (ini bisa dikatakan plagiat lho
) sampai dengan plagiat cerpen yang dimuat di majalah. Rasanya hal ini sering terjadi. Sampai ke hal yang lebih besar seperti meniru lagu dan plagiat film.
Tidak usah jauh-jauh, film yang dapat nominasi Oscar, seperti The Departed, kenyataannya adalah film yang diadaptasi dari film Hong Kong yaitu Infernal Affairs. Film The Grudge dan Dark Water juga merupakan film remake. Namun mereka cukup tahu diri karena menyebutkan sumber film yang mereka adaptasi. Tentu saja hal ini dilakukan karena kedua film tersebut merupakan film yang terkenal. Apabila mereka meniru tanpa menyebutkan sumber yang mereka tiru, hal ini akan membawa kesebuah perseteruan yang serius. Tetapi bagaimana dengan film-film yang hanya ditayangkan lokal alias di satu negara saja? Seperti contohnya drama-drama Asia (Jepang, China dan Korea) sering sekali diplagiat oleh negara kita. Tapi tidak menutup kemungkinan sinetron asli buatan Indonesia diplagiat oleh negara lain. Siapa yang tahu?
Bagaimana solusinya??
Cobalah hal ini dimulai dari diri kita sendiri. Kalau dari diri kita sendiri masih melakukan hal-hal seperti mencontek dan plagiat, bagaimana bisa ketemu ujung permasalahannya? Tetapi walaupun kita telah menerapkan prinsip “dilarang mencontek”, hal ini tentu sulit karena tidak semua orang bisa menerapkan prinsip “dilarang mencontek” itu. Benar-benar hal yang amat sulit untuk ditemukan solusinya. Apalagi orang-orang diluar sana yang memegang kuasa untuk membuat film, menciptakan lagu hingga mendistribusikannya, belum tentu mereka menerapkan prinsip tersebut. Bagi mereka plagiat adalah hal yang biasa. Yang penting hanya satu. Komersial.
Februari 22, 2007 pukul 11:20 am
memalukan ya…giliran ada yg kreatip, malah dimatikan!
soal zodiak, emang ga ada pengaruhnya sih :p pan berdasar taon kelahiran. Perubahan yg sekarang, dimulai taon 2000. So, aman….zodiak kita ga berubah…hehehe
Juni 29, 2007 pukul 6:10 am
[...] rayuan dikeluarkan agar Rizma mau membantunya menyelesaikan semua persoalannya mulai dari membantu mencontek mengerjakan tugas kuliah, hingga minta dibayarin nonton, makan dan [...]
Mei 3, 2008 pukul 12:05 am
[...] Budaya mencontek telah mendominasi kehidupan [...]
Agustus 22, 2008 pukul 8:00 am
[...] resources : One, two, three, four, five, [...]
November 26, 2008 pukul 10:10 am
ah ga asik nih pembicaraannya… basi ahh! gua aja belom baca. udah males duluan. dasar gua ganteng banget sih.. avenged sevenfold mana!!??? hahahahhahahahahahahahahahahahahahhaha!!!
April 15, 2009 pukul 12:06 pm
sedih sebenernya liat kenyataan ini…